KPPS Salah Hitung, Laman KPU Kacau

Palu – Perolehan suara berdasarkan data tempat pemungutan suara (TPS) atau formulir C1 yang dimuat di laman KPU menjadi sorotan publik dan ramai diperbincangkan di media sosial. Pasalnya, terdapat kekeliruan angka-angka yang ditampilkan dalam website penyelenggara pemilu tersebut.

Misalkan, perolehan suara pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Sulawesi Tengah. tadi malam jika ditotal perolehan dua pasangan calon tidak sama dengan jumlah suara sah sebagaimana ditampilkan di laman KPU. Suara sah yang dimaksudkan adalah penjumlahan perolehan suara dua pasangan calon gubernur tersebut.

Sampai pukul 21.46 Wita, perolehan suara sah pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Rusdi Mastura-Ihwan Datu Adam sebanyak 536.261. Sedangkan rivalnya pasangan Longki Djanggola-Sudarto 624.375.

Jika dihitung secara manual, seharusnya total suara sah untuk dua pasangan calon yakni 1.160.636. Namun, angka ini berbeda dengan angka yang ditampilkan di laman KPU yakni hanya 1.159.441 suara sah. Artinya, tidak sinkron atau terdapat 1.195 suara sah pasangan calon yang tidak terakumulasi.

Kekeliruan dalam penjumlahan suara sah juga terjadi di beberapa kabupaten, termasuk pilkada Palu. Sebut misalnya di Kabupaten Banggai, total suara sah hanya 113.712 suara. Sementara perolehan suara tiga pasangan calon jika ditotal mencapai 115.257 suara. Artinya, terdapat 1.545 suara yang tidak terakumulasi.

Begitu juga di pilkada Palu yang sampai penghitungan pukul 22.54 Wita, terdapat selisih 1.179 suara pasangan calon yang tidak terakumulasi sebagai suara sah. Perolehan suara untuk empat pasangan calon jika ditotal seharusnya 130.806, namun yang tercatat di laman KPU hanya 129.627 suara sah.

Dikonfirmasi, Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sulawesi Tengah Sahran Raden mengakui telah mengecek laman KPU terkait perbedaan angka-angka tersebut. Setelah ditelururi, kata dia terungkap bahwa kekeliruan terjadi pada beberapa kelompok penyelenggara pemungutan suara (KPPS) dalam menghitung total suara sah di tingkat TPS. Namun, menurutnya kekeliruan itu bukan suatu kesengajaan.“Hasil monitoring saya, KPPS salah menjumlahkan suara sah sebagaimana tertulis dalam lampiran C1. Tapi, bukan pada perolehan suara masing-masing paslon,” kata Sahran Raden dikonfirmasi Metrosulawesi melalui ponselnya, Sabtu (12/12/2015) siang.

Saat dihubungi, Sahran Raden sedang berada di Kabupaten Banggai untuk monitoring proses rekapitulasi suara yang saat ini sedang berlangsung di PPK (kecamatan).

Dia mengatakan, kekeliruan bukan pada pencatatan perolehan suara pasangan calon, melainkan penjumlahan perolehan suara calon yang satu ditambah perolehan calon yang lainnya.

Misalkan, kata dia di suatu TPS pasangan calon A memperoleh suara 50 dan pasangan B juga 50. Hasil penjumlahan seharusnya 100, namun petugas KPPS salah menjumlahkan menjadi 102 sehingga pada saat scan C1 berbeda hasilnya.

“Seperti itu yang terjadi sehingga terjadi kesalahan dalam hal jumlah. Itu hanya sebagai contoh,” katanya.

Dia menjelaskan, sesuai aturan, operator KPU kabupaten kota yang melakukan scan terhadap formulir C1 tidak bisa mengubah data. Mereka harus memasukkan data sesuai yang tertera dalam formulir C1. Sehingga, lanjutnya apapun hasilnya dari KPPS kemudian dimasukkan oleh operator dalam sistem informasi penghitungan suara (situng).

“Apa yang ada itulah yang dipublis,” katanya.

Menurutnya, tim masing-masing pasangan calon juga mengetahui dan bahkan menadatangani perolehan suara di TPS. Karena itu, tim bisa melihat kesalahan dalam penghitungan suara sah tersebut di formulir C1

Ketua KPU Suteng Sahran Raden mengatakan, data scan C1 di laman website KPU bisa saja keliru atau salah karena itu belum final. Kekeliruan atas data tersebut dikoreksi pada tahap jenjang berikutnya pada pleno rekapitulasi.

Sesuai PKPU Nomor 11/2015, lanjut Sahran, maka pleno rekapitulasi dapat memperbaiki data tersebut melalui keberatan saksi paslon, panwascam dan atau temuan PPK sendiri.

“Saya memahami kerisauan banyak pihak, tapi itulah yang terjadi. Justru dengan adanya scan C1 masyarakat dan publik dapat mengetahui data KPU,” katanya.

Sahran Raden mengatakan, scan C1 di website sebagai alat kontrol. Maka, kata dia siapapun yang mengubah datanya akan diketahui oleh publik.

“Jadi disinilah ruhnya azas transparansi KPU terhadap datanya. Justru ini sebagai kontrol agar publik dapat mengetahuinya,” katanya.

Menurutnya, untuk pilgub pengumuman resmi perolehan suara akan diumumkan pada 19 Desember 2015 oleh KPU Sulteng. Karena itu, semua pihak diharap bersabar karena sesuai aturan tahapan rekapitulasi secara berjenjang.

Terpisah, Divisi Perencanaan, Keuangan, Data dan Logistik KPU Sulteng Muhammad Ramlan Salam mengatakan, kekeliruan penjumlahan suara sah dalam formulir C1 akan diperbaiki di tingkat PPK (kecamatan).

Koreksi akan dilakukan dalam pleno PPK dengan mengundang Panwas dan saksi pasangan calon.

“Jika terjadi kesalahan dalam penjumlahan itu, maka tentu akan muncul keberatan sehingga akan diperbaiki,” katanya.

Dalam proses perbaikan itu, data akan disandingkan dengan C1 plano yang berhologram. Menurutnya, rekapitulasi di PPK akan terungkap dimana saja KPPS yang keliru dalam menjumlahkan suara sah.

“Kesalahan penjumlahan ini bisa saja terjadi di TPS. Perlu diketahui bahwa tidak ada pengadaan kalkulator (alat penghitung) di TPS sehingga bisa saja KPPS keliru saat menjumlahkan angka-angka itu. Makanya, data yang ditampilkan di laman KPU itu belum final, karena masih akan direkapitulasi di PPK, KPU kabupaten, hingga di KPU provinsi untuk pilgub,” ujar Ramlan Salam yang saat dihubungi sedang berada di Bungku, Kabupaten Morowali untuk memonitoring pilkada di daerah tersebut.

Diketahui kekeliruan angka-angka dalam laman KPU tidak hanya terjadi di Sulawesi Tengah, namun juga di provinsi lain. Data yang dimuat di laman tersebut adalah bentuk transparansi KPU, namun bukan hasil final.MS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

%d bloggers like this: