Jelang Natal dan Tahun Baru Rentan Beredar Uang Palsu

Palu – Kepala Bank Indonesia (BI) perwakilan Sulawesi Tengah, Purjoko mengimbau masyarakat agar lebih teliti saat melakukan transaksi uang tunai menjelang perayaan Natal dan menyambut Tahun Baru 2016.

Purjoko mengatakan pada saat ada iven maupun perayaan hari raya rentan dengan peredaran uang palsu di tengah masyarakat, sehingga diperlukan kewaspadaan oleh seluruh kalangan untuk mencegah peredaran uang palsu.

“Peredaran uang palsu biasanya banyak terjadi saat ada event. Seperti saat pilkada dan agenda akhir tahun nanti,” katanya, Kamis (10/12/2015). Namun pihaknya belum menemukan adanya indikasi peredaran uang palsu yang terjadi saat pilkada hingga saat ini.

Untuk mencegah peredaran uang palsu, BI juga gencar melakukan sosialisasi kepada seluruh kalangan. BI perwakilan Sulawesi Tengah secara rutin mengadakan sosialisasi kepada mahasiswa di kampus-kampus, sekolah, maupun di setiap instansi.

“Jadi setiap kita melakukan sosialisasi program apa saja selalu diselipi dengan sosialisasi uang palsu,” katanya.

“Kita juga lakukan sosialisasi kepada masyarakat umum saat ada kegiatan cash clearing di pasar-pasar dan swalayan,” Purjoko menambahkan.

Selain itu, pihaknya juga bekerjasama dengan Polda Sulawesi Tengah untuk mengantisipasi peredaran uang palsu.

Untuk periode kuartal IV 2015 pihak BI belum memiliki data seberapa banyak temuan uang palsu yang beredar, namun Purjoko berharap tidak ada lonjakan.

“Semoga saja tidak ada lonjakan peredaran uang palsu,” kata dia.

Dia mengatakan, selama ini laporan temuan uang palsu rata-rata masih berasal dari pihak bank.

“Jadi indikasi temuan uang palsu itu ketika transaksi di bank, pihak bank meragukan keaslian kemudian dilaporkan ke BI. Kepedulian masyarakat sepertinya masih sangat rendah,” katanya.

Ia menambahkan, ada sejumlah program yang menjadi konsen BI diantaranya kewaspadaan terhadap keaslian uang palsu. Selain itu, Ia juga berharap agar masyarakat memperlakukan rupiah sebaik mungkin.

“Karena rupiah lah yang menentukan perekonomian kita. Jadi sebaiknya jagalah rupiah sebaik mungkin, perlakukan dengan baik, jangan dicoret-coret. Karena bisa saja materi uang tersebut itu jauh lebih mahal dibandingakan nominalnya,” tutur Purjoko.

Ia juga mengatakan bahwa seluruh kalangan masyarakat harus menerima rupiah dalam bentuk uang kertas maupun logam. Ia mengatakan, di kalangan masyarakat ada yang menolak untuk menerima uang logam karena alasan sudah tidak berlaku.

“Itu tidak benar, selama belum ada penarikan dari peredaran uang itu masih berlaku. Jadi masyarakat tidak boleh menolak uang logam.”MS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

%d bloggers like this: