Proyek RTH Masigi Terancam Molor

PARIGI-Proyek pembangunan Ruang Terbuka Hijau (RTH) perkotaan di Kelurahan Masigi Kecamatan Parigi, Kabupaten Parigi Moutong (Parmout) terancam molor dari kontrak pelaksanaan yang telah disepakati.

Bahkan, parahnya lagi hingga di penghujung November 2015 proses pengerjaan masih mencapai 60 persen.
Berdasarkan pantauan media ini di lokasi pembangunan RTH Rabu (25/11/2015), entah alasan apa papan proyek yang sebelumnya dipasang kini tidak lagi terlihat.

Bahkan, masih terlihat tumpukan kurang lebih ribuan paping yang hingga kini belum juga terpasang.
Sesuai tanggal kontak proyek RTH yang dikerjakan oleh Mari Bangun Nusantara tersebut dilaksanakan mulai tanggal 12 Juni 2015 dengan waktu pelaksanaan pekerjaan selama 180 hari, berdasarkan nomor kontrak: 208/HK.02.03/Kontrak-FIS-PB/PKP 2B-ST/2015, sehingga waktu pelaksanaan terancam molor, karena tinggal kurang lebih 14 hari lagi.

Pembangunan RTH perkotaan tersebut, bersumber dari APBN 2015 melalui Kementerian PU dan Perumahan Rakyat Direktorat Jenderal Cipta Karya, yang ditangani oleh Cipta Karya Provinsi Sulteng dengan total anggaran Rp4.825.600.000.
Sementara konsultan pengawasan dalam proyek tersebut yakni, PT Timur Konsultan.

Menanggapi hal itu, Ketua Komisi III DPRD Parmout, Hazairin Paudi mengatakan, pihaknya hanya ingin mengingatkan kepada pihak pelaksana proyek RTH tersebut untuk menyelesaikan pekerjaan itu sesuai dengan kontrak yang telah disepakati bersama.

“Peringatan ini mungkin bukan hanya pada proyek RTH ini saja, ini juga berlaku pada sejumlah proyek APBD dan APBN lainnya karena ini sudah memasuki penghujung tahun,” tuturnya.

Tentunya kata dia, jika memang telah melewati kontrak yang telah disepakati bersama dengan pihak pemerintah, harus ada sanksi yang dijalani oleh pihak pelaksana sesuai Peraturan Presiden (Perpres) 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah dengan perubahan.

Dia berharap, seluruh proyek pembangunan yang dilakukan di Kabupaten Parmout, baik ditangani oleh Pemprov dan Pemkab dengan sumber dana APBD dan APBN, diselesaikan tepat waktu.

Sehingga kata dia, tidak berdampak pada kualitas bangunan yang dikerjakan pada saat dimanfaatkan akibat mengejar waktu pelaksanaan.

“Pekerjaan yang terburu-buru jelas akan mempengaruhi kualitas pembangunannya. Makanya kami harapkan bisa tepat waktu dan segera dimanfaatkan masyarakat,” tuturnya.

Sebelumnya awal pelaksanaan proyek RTH perkotaan tersebut sempat juga diberitakan media ini, karena diduga loncat prosedur.

Pasalnya, proses pembangunan telah dilakukan, namun pembersihan lahan belum dimulakan.
Berdasarkan pantauan dilapangan, kondisi lokasi pembangunan RTH Masigi yang direncanakan memakan anggaran sebesar Rp4,8 miliar lebih tersebut masih dalam kondisi seperti sebelumnya. Dimana, belum ada aktivitas pembukaan atau pembersihan lahan layaknya pelaksanaan pembangunan infrastruktur yang terjadi dibeberapa pekerjaan fisik lainnya.

Padahal, bila mengacu pada aturan yang mengatur tentang proses pekerjaan terutama untuk pekerjaan infrastruktur, seharusnya anggaran untuk pembersihan lahan masuk dalam RAB kegiatan, meskipun presentase pekerjaannya (progresnya) kecil.

Apabila, ada penimbunan yang dilakukan, itu bukan bagian dari pelaksanaan pembersihan lahan, tetapi hanya dijadikan sebagai akses bagi kendaraan yang memuat material untuk penimbunan pondasi bangunan yang tepat berada di tengah lokasi. sultengpo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

%d bloggers like this: