100 Hektar Sawah di Pamona Puselemba Gagal Panen

DONGGALA-Sedikitnya 100 hektar lahan sawah di Kecamatan Pamona Puselemba yang dimasukkan dalam program Optimasi lahan persawahan Dinas Pertanian Kabupaten Poso gagal panen akibat serangan hama Tikus.

“Serangan Tikus tahun ini benar benar luar biasa, tanaman padi, kedele dan jagung, rusak sehingga banyak petani menderita kerugian karena tanaman yang tidak bisa di panen” keluh Vincent Lumintang dalam kapasitasnya sebagai Ketua Komunitas Tani Organik Kabupaten Poso.

Areal pertanian yang terdampak akibat serangan tikus itu diantaranya adalah desa Tonusu, Leboni dan Wera dengan perkiraan kerugian yang bisa mencapai seratusan juta rupiah lebih. Kegagalan Panen tahun ini dipastikan akan semakin memberatkan perekonomian petani setelah sebelumnya mereka harus berupaya keras merawat tanaman disaat musim kemarau.

Berdasarkan data Komunitas Tani Organik, serangan hama tikus di wilayah Pamona telah seringkali terjadi dalam 5 tahun terakhir. Segala macam upaya dilakukan untuk menanggulangan serangan hewan pengerat itu, tapi tidak menunjukkan hasil yang signifikan. “Bahkan untuk pertanian sawah dengan penanaman serempak saja tidak otomatis mengurangi serangan hama tikus” Komunitas Tani Organik berpendapat sudah saatnya Pemerintah Kabupaten Poso untuk mengadopsi cara petani di wilayah Mojokerto dan Klaten, Jawa Tengah yang berhasil menanggulangi serangan hama tikus.

“Pemerintah Daerah Kabupaten Poso, harusnya belajar ke daerah Mojokerto dan Klaten di Jawa Tengah, yang berhasil menanggulangi serangan hama tikus dengan memanfaatkan burung hantu, sebagai musuh alami hewan itu” harap Vincent “Saya kira penggunaan musuh alami lebih efektif dan murah bagi penanggulangan hama tikus ini”.

Burung Hantu selama ini dikenal dengan kemampuannya untuk mendeteksi mangsa dari jarak jauh dan kemampuan menyergap tanpa suara serta sifatnya sebagai hewan nocturnal (mencari makan dimalam hari) membuat burung Hantu menjadi predator ideal untuk tikus. Sepasang burung hantu disebut dapat mengamankan sawah seluas 25 ha dari serangan tikus dengan kemampuan persatu ekor burung hantu dapat memangsa antara 3-5 ekor per hari. Tentu saja untuk mengendalikan tikus di areal persawahan menggunakan burung hantu akan diperlukan sebuah kekompakan dari petani yang didukung pemerintah untuk mengadakan bibit anakan burung hantu, membuatkan rumah rumah burung hantu di areal persawahan, sekaligus adanya peraturan yang jelas untuk melindungi burung hantu itu sendiri dari perburuan. “Dengan kemampuan sepasang tikus yang mampu beranak 2000 ekor per tahun, kita tetap akan kesulitan menanggungi serangan hama tikus, tanpa memanfaatkan bantuan burung hantu sebagai musuh alami hewan itu sendiri” tutup Vincent Lumintang. SULTENGPOS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

%d bloggers like this: