Bahaya Asap Rokok ISPA, Urutan Pertama Penyebab Kematian

Di Indonesia Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) menempati urutan pertama penyebab kematian pada kelompok bayi dan balita. Selain itu ISPA juga sering berada pada daftar 10 penyakit terbanyak di rumah sakit, dan asap rokok menjadi salah satu penyebabnya.

Oleh : Roin Allangkary

Ketua panitia kegiatan presentase hasil riset dampak asap rokok terhadap penyakit ISPA tingkat Kota Palu 2015, Gunawan S Sos Mkes mengatakan, merokok bisa berbahaya dan berdampak buruk bagi kesehatan. Namun kebiasaan yang satu ini memang sangat sulit untuk ditinggalkan apalagi dihilangkan.

Jika “keinginan” merokok tidak dapat lagi dibendungi. Pilihlah tempat untuk merokok agar tidak banyak orang yang terpapar oleh polusi asap rokok dan bukan tempat-tempat umum seperti, bis, halte, rumah sakit, ruang tunggu praktek dokter, bahkan hindarilah untuk merokok di dalam rumah/kamar.

“Hal ini untuk menjauhkan asap rokok tersebut dari orang-orang yang tidak bersalah yang dapat menjadikan mereka sebagai perokok pasip. Karena mereka yang terkena asap rokok lebih berbahaya dibandingkan mereka yang memang merokok,” kata Gunawan, dalam pertemuan dengan kepala kelurahaan se kota Palu, sejumlah perwakilan puskesmas dan rumah sakit se Kota Palu, di gedung lantai tiga kantor walikota, Senin (16/11/2015).

Dia mengatakan prilaku merokok dikalangan masyarakat cukup banyak terjadi pada kelompok jenis kelamin laki-laki. Awalnya kebiasaan merokok dikalangan usia remaja terutama siswa kelas XII SMA/sederajat.

Pada tahun 1992 menunjukkan adanya penurunan sebesar (27,8 persen) ternyata melonjak kembali mencapai angka 34,6 persen pada tahun 2000. Sekitar 34,6 persen siswa kelas XII SMA/sederajat pernah merokok dalam 30 hari (hampir 1 dari 4 orang), melaporkan aktifitas merokok harian, walaupun mereka merupakan perokok ringan (kurang dari separuh bungkus sehari).

“Hasil penelitian menunjukkan bahwa banyak perokok ringan akan menjadi perokok berat saat mereka semakin dewasa. Dampak kesehatan penggunaan tembakau sudah umum diketahui semua orang bahkan oleh perokok sendiri,” jelasnya.
Umumnya kata Gunawan, perokok lebih banyak pada pria dewasa, namun memasuki era modern dewasa ini trend gaya hidup juga mengalami perubahan dan mengikuti gaya hidup orang barat. Kesamaan antara wanita dan pria menjadikan bahwa tidak ada perbedaan antara pria dan wanita yang berpengaruh pada kebiasaan wanita yang mengikuti pria, seperti kebiasaan wanita merokok. Meskipun banyak dari wanita perokok yang menyadari bahwa merokok berbahaya bagi kesehatan ibu termasuk juga bagi anak-anaknya.

Ibu merokok selama kehamilan meningkatkan resiko terjadinya kondisi kesehatan pranatal dan pasca natal. Kesehatan pranatal yaitu keadaan dimana bayi belum lahir sedangkan kondisi pasca natal merupakan keadaan dimana bayi sudah dilahirkan seperti penyakit-penyakit yang terjadi setelah bayi lahir. Menurut sebuah penelitian, merokok selama kehamilan berkaitan dengan 20%- 30% kasus bayi BBLR (Berat Badan Lahir Rendah) dan ibu perokok 10% menyebabkan kasus kematian bayi. Angka insiden bayi BBLR dari ibu yang merokok dua kali lebih besar dari ibu yang tidak merokok dan ibu tidak merokok yang terpajan asam rokok di lingkungannya juga beresiko lebih besar melahirkan bayi BBLR.

Akibat merokok tidak hanya pada perokok tersebut tetapi juga pada masyarakat disekitarnya. Bagi mereka yang bukan perokok yang terpajan pada asap tembakau lingkungan (environmental tobacco smoke atau ETS) dikenal dengan asap rokok tak langsung (second hand smoke) proses menghirup ETS disebut perokok pasif.

Dijelaskannya, temuan penelitian memperlihatkan bahwa seseorang tidak perlu harus mengkonsumsi produk tembakau untuk terkena pengaruh buruk dari rokok, tetapi dilaporkan bahwa efek asap tembakau lingkungan (environmental tobacco smoke, ETS) atau asap sekunder memperlihatkan bahwa orang dewasa dan anak-anak yang menghirup asap tembakau orang lain (perokok pasip) juga mengalami peningkatan resiko terkena penyakit jantung.

Bahkan paparan asap rokok pada Ibu hamil, bayi, balita dan anak-anak dapat meningkatkan resiko bayi mengalami kondisi kesehatan yang buruk seperti terjadinya penyakit (ISPA) infeksi saluran pernafasan akut.

Pajanan terhadap ETS biasanya berhubungan dengan 150.000 sampai 300.000 kasus infeksi saluran pernafasan akut pada bayi dan anak usia maksimal 18 bulan (misalnya : bronkhitis dan radang paru atau pneumonia).

Lebih lanjut Gunawan mengatakan, hasil penelitian terhadap EPA (Environmental Protection Agency) memperlihatkan bahwa ETS (asap rokok sekunder) dapat memperburuk asma pada anak-anak dan merupakan faktor resiko untuk kasus asma baru di masa kanak-kanak. Ibu yang merokok selama masa kehamilan, setelah melahirkan atau asap rokok yang berasal dari anggota keluarga (rumah tangga) setelah kelahiran anak dapat meningkatkan resiko anak menderita ISPA.

Asap rokok yang terhirup pada bayi terbukti dapat meningkatkan resiko bayi mengalami konsekwensi yang buruk selama masa pranatal (sebelum lahir) dan kondisi kesehatan yang buruk selama masa pasca natal (setelah lahir). Secara khusus bahaya asap rokok ini berkaitan dengan keterlambatan pertumbuhan dalam kandungan, berat badan lahir rendah, kelahiran kurang bulan, infeksi saluran pernafasan akut dan gangguan prilaku serta gangguan kognitif.

“Infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) adalah proses infeksi akut berlangsung selama 14 hari yang disebabkan oleh mikroorganisme dan menyerang salah satu bagian, atau lebih dari saluran nafas, mulai dari hidung (saluran atas) hingga alveoli (saluran bawah) termasuk jaringan adneksanya, seperti sinus, rongga telinga dan pleura,” jelasnya.

“Kriteria penderita ISPA adalah balita dengan gejala batuk dan atau kesukaran bernafas atau batuk pilek biasa (common cold),” kata Guanwan menambahkan.

Infeksi Saluran Pernafasan Akut merupakan masalah kesehatan yang penting karena menyebabkan kematian bayi dan balita yang cukup tinggi yaitu kira-kira 1 dari 4 kematian yang terjadi. Sekitar 40-60 persen dari kunjungan di Puskesmas adalah penyakit ISPA. Dari seluruh kematian yang disebabkan ISPA pada bayi mencakup 20-30 persen kematian yang terbesar karena pneumonia.

Penyakit infeksi saluran pernafasan akut mempunyai gejala klinis, yakni nafas tidak teratur dan cepat, tertariknya kulit dalam dinding dada, nafas cuping hidung dimana hidungnya mengalami gerakan mengikuti pernafasan, sesak kebiruan, suara nafas lemah atau hilang, suara nafas seperti ada cairannya sehingga terdengar keras. Bayi/anak tidak mau menetek/minum, gelisah, mudah terangsang, sakit kepala, bingung, kejang dan coma, mudah letih dan berkeringat banyak.

Balita merupakan kelompok usia yang paling rentan terhadap infeksi saluran pernafasan. Hal ini dibuktikan dengan tingginya morbiditas dan mortalitas akibat ISPA di negara-negara berkembang maupun di negara maju. Balita dan anak-anak penderita ISPA yang dibawa ke rumah sakit umumnya dalam kondisi penyakitnya cukup gawat. Penyakit-penyakit saluran pernafasan yang dialami pada masa bayi dan anak-anak dapat menyebabkan kecacatan hingga pada masa dewasa.

Gunawan menjelaskan, organisasi kesehatan dunia World Health Organization (WHO) memperkirakan insiden Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) di negara berkembang dengan angka kematian balita di atas 40 per 1000 kelahiran hidup adalah 15- 20 persen pertahun pada golongan usia balita.

“Menurut WHO lebih kurang 13 juta anak balita di dunia meninggal setiap tahun dan sebahagian besar kematian tersebut terdapat di negara berkembang, di mana pneumonia merupakan salah satu penyebab utama kematian dengan membunuh lebih kurang 4 juta anak balita setiap tahun,” katanya.

Sementara di Indonesia, Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) menempati urutan pertama penyebab kematian pada kelompok bayi dan balita. Selain itu ISPA juga sering berada pada daftar 10 penyakit terbanyak di rumah sakit. Survei mortalitas yang dilakukan oleh Subdit ISPA tahun 2005 menempatkan ISPA/Pneumonia sebagai penyebab kematian bayi terbesar di Indonesia dengan persentase 22,30 persen dari seluruh kematian balita.

Infeksi saluran pernafasan akut dapat ditularkan melalui air ludah, darah, bersin, udara pernafasan yang mengandung kuman yang terhirup oleh orang sehat ke saluran pernafasannya. Infeksi saluran pernafasan bagian atas terutama yang disebabkan oleh virus, sering terjadi pada semua golongan masyarakat pada bulan-bulan musim dingin. Berdasarkan cara penularannya tersebut penyakit ISPA sangat mudah berkembang di masyarakat, apabila salah satu anggota keluarga menderita penyakit ISPA maka keluarga lain beresiko tertular penyakit ini.

“Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007 tercatat sebesar 69% rumah tangga memiliki minimal satu orang yang merokok, 85% di antaranya merokok di dalam rumah bersama dengan anggota keluarga lainnya,” paparnya.

“Hasil penelitian lainnya menunjukkan bahwa 94 persen ayah merokok di dalam rumah dan 79% merokok di dekat anaknya. Jadi anak merupakan korban asap rokok dari anggota rumah yang tinggal bersamanya. Kebiasaan merokok pada ayah Meningkatkan resiko infeksi saluran nafas akut pada anaknya,” katanya lagi.

Tarakhir, Gunawan berharap hasil penelitian ini kiranya dapat menjadi renungan bagi kita semua, untuk kemudian berbuat sesuatu demi menyelamatkan generasi yang akan datang dengan memberikan ruang hidup tanpa asap rokok.SULTENGPOS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

%d bloggers like this: