Balitbangda Kembali Melaunching Pakan Ternak Berbasis Industri Rumahan

Palu – Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Sulawesi Tengah kembali melaunching hasil penelitian dan inovasi berupa pakan ternak berbasis industri rumahan. Selain menawarkan harga murah dan meningkatkan kualitas ternak, hasil inovasi ini diharapkan mampu menciptakan usaha baru berbasis industri rumahan di tengah masyarakat.

Pakan ternak yang dilaunching di lokasi pengembangan ternak domba, di Jalan I Gusti Ngurah Rai, Kelurahan Tatura Selatan Palu, Senin (16/11), berupa pakan ternak hasil fermentasi limbah kakao dan ikan yang diolah menjadi pakan ternak ruminansia kecil.

“Jadi bahannya ini banyak dari ikan afker yang sudah tidak bisa dijual lagi. Terus dari limbah biji kakao yang hasil ayakan dengan dedak, itu kita campur nanti dengan ada perbandingannya dari ikan yang afker dengan limbah kakao itu yang nanti kita campur jadikan konsentrat untuk meningkatkan bobot badannya (ternak),” ungkap Kepala Seksi Pemerintahan dan Survei Balitbangda Sulteng, Ayub Minggu Sura kepada wartawan usai melaunching hasil inovasi tersebut, Senin (16/11/2015).

Sementara itu, perwakilan Balai Pengembangan Perbibitan Ternak (BPPT) Sulawesi Tengah, F F Munier mengatakan pakan ternak hasil inovasi ini merupakan hasil penelitian selama dua tahun. Dan hasil yang didapatkan dengan menggunakan pakan ternak olahan limbah kakao tersebut dapat meningkatkan berat badan ternak dalam waktu yang singkat, serta kotoran ternak pun tidak terlalu berbau dengan pakan ternak tersebut.

Selain itu, harga pakan ternak hasil inovasi ini pun jauh lebih murah karena memanfaatkan bahan dasar lokal berupa limbah kakao dan ikan afker.

“Jadi, berasal dari penggunaan kulit buah cokelat (kakao) itu mulai tahun 2004 dan saya lanjutkan konsen penelitian hingga sekarang. Nah, mulai dua tahun terakhir ini mencoba lagi inovasi yang kita kalau orang sini bilang debu biji kakao,” ungkap F F Munier di tempat yang sama.

“Bisa bapak-bapak cek di Pantoloan sana yang antar pulau itu, mungkin puluhan ton, mungkin ada ratusan ton (limbah kakao) hanya disimpan, belum dimanfaatkan. Dari situ ide saya muncul,” kata Munier menambahkan.

Sehingga, kata dia, dengan daerah Sulawesi Tengah yang merupakan salah satu penghasil kakao terbanyak seharusnya bisa memanfaatkan hal tersebut. Karena dari hasil penelitian yang dilakukan, kata dia, hasil komposisi kimia, gizi atau nutrisi yang terkandung pada limbah kakao itu sekitar dua hingga tiga kali dibandingkan kulit kakao. Hal ini sangat baik untuk perkembangan dan produksi ternak.

Asisten II Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah, Bunga Elim Somba, yang membidangi perekonomian, mewakili Gubernur Sulawesi Tengah mengatakan Balitbang berkewajiban untuk membantu peternak, khususnya di daerah ini untuk pengembangan ternak domba khusunya.

Ia mengatakan, untuk pengembangan yang terpenting adalah pakan dan kualitas ternak.

“Sesuai dengan SK Menteri Pertanian, ditetapkan domba Palu ini adalah domba yang betul-betul asli Palu yang harus dipertahankan. Berdasarkan itu, kita ingin mengembangkan, karena tentunya selama ini kendalanya adalah kurang pengembangan,” kata Elim Somba.

“Di sini sudah ada agribisnisnya di dalam, jadi kita juga bisa melihat di samping pakannya bisa menigkat, bisa meningkatkan juga terhadap ketahanan hama penyakit, bisa juga harganya murah, ternyata juga bisa kita tekan daripada biaya produksi,” jelas Elim memaparkan keunggulan yang ditawarkan pakan hasil inovasi olahan limbah kako tersebut.

Dia menambahkan, pihak Pemprov akan mengimplementasikan hasil uji coba yang telah dilauncing ini kepada para peternak dan mulai melakukan pencatatan untuk membina kelompok-kelompok ternak dan membentuk koperasi dan badan usaha untuk para peternak.

“Dan ini bukan Cuma di Kota Palu saja, jadi kita semua di Kabupaten akan diinformasikan sehingga domba Palu ini lebih dikenal. Saya kira daya saing domba Palu ini tidak akan ketinggalan, apalagi sekarang kita sudah masuk Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Jadi daya saing ini kita tingkatkan,” tandasnya.

Dia menambahkan, pihak Pemprov dan Litbang akan berusaha secepat mungkin untuk mematenkan hasil inovasi pakan tersebut.

Pemrov sendiri, kata Elim Somba, hingga saat ini telah mendukung inovasi tersebut dalam hal melakukan kajian dan penelitian.

“Kita ini selama dua tiga tahun melakukan namanya trial and error, dicoba salah, dicoba salah, dan itu berapa kali salah dan apa yang kita dapatkan hari ini merupakan suatu hasil dari perjuangan yang panjang.”

Sehingga kedepannya Ia berharap para kelompok ternak bisa memanfaatkan hasil kajian ini, melahirkan usaha berbasis industri rumahan dengan biaya murah dan menghasilkan ternak yang berkualitas.

Sebelumnya, Balitbang juga telah melaunching pakan ternak ayam berbasis industri rumahan. Harga pakan ternak hasil inovasi ini dua kali lebih murah dari pakan hasil industri pada umumnya.MS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

%d bloggers like this: