Sulteng Bertekad Jadi Percontohan Dalam Pengelolaan Data Perikanan

Palu – Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Tengah terus berupaya menyempurnakan sistem pengelolaan data perikanan dengan harapan suatu saat bisa menjadi yang terbaik di tingkat nasional dan percontohan bagi provinsi-provinsi lain di Indonesia.

“Basisnya adalah para petugas pengumpul dan pengolahan data di lapangan,” kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sulteng DR Ir Hasanuddin Atjo, MP di Palu, Senin, usai menyerahkan hadiah bagi para petugas terbaik dalam pengumpulan dan pengolah data perikanan pada pembukaan Monitoring dan Evaluasi Statistik Perikanan Tangkap DKP Sulteng 2015.

Para petugas terbaik pengumpulan data tersebut masing-masing terbaik I Aidil dari Kabupaten Donggala, terbaik II Rafli Mangatul (Kabupaten Banggai) dan terbaik III Elvi (Kabupaten Buol) masing-masing menerima satu unit telepon genggam android.

Sedangkan petugas terbaik dalam pengolahan data perikanan masing-masing terbaik I Taufan Kanoli dari Kabupaten Buol, terbaik II Yudiawan (Parigi Moutong) dan terbaik III Irmaningsih (Tojo Unauna), masing-masing menerima satu unit laptop.

Kadis Kelautan dan Perikanan Hasanuddin Atjo mengemukakan bahwa data telah menjadi kebutuhan utama dalam pembangunan sektor kelautan dan perikanan, baik untuk pemerintah, investor maupun pemangku kepentingan lainnya di sektor ini.

Ia memberi contoh soal perlunya data kapal penangkap ikan yang beroperasi di Sulawesi Tengah, berapa sebenarnya jumlah unit yang riil, sebarannya bagaimana, kondisinya (berapa yang baik dan rusak), serta hasil tangkapannya (produktivitas) setiap kapal.

“Data seperti ini sangat dibutuhkan oleh pemerintah sebagai bahan untuk mengambil keputusan dalam menyalurkan bantuan kapal penangkap ikan,” ujarnya dan menambahkan, ‘namun data kapal ikan yang ada di Sulteng saat ini masih sangat kita ragukan validitasnya karena kapal yang rusak juga masih tetap didata’.

Hasanuddin Atjo pada kesempatan itu meminta Kabid Perikanan Tangkap Johanis Riga untuk melakukan survei berapa sebenarnya kapal ikan yang beroperasi di empat pelabuhan perikanan yang dikelola Dinas KP Sulteng, karena mulai 2016, pemerintah akan membangun 4.000 kapal penangkap ikan setiap tahun dan menyebarkannya ke daerah-daerah.

Data lain yang sangat dibutuhkan adalah; dengan volume tangkapan ikan Sulteng sekitar 200.000 ton per tahun, berapa sesungguhnya kebutuhan nelayan akan es balok untuk menjamin kualitas hasil tangkapan agar tidak terjadi kehilangan produksi (losses) karena ikan membusuk.

“Data seperti ini dibutuhkan oleh para investor untuk menanam modal dalam pembangunan pabrik es balok serta oleh PT PLN selaku stakeholder perikanan untuk menetapkan kebijakan pembangunan sektor kelistrikan yang mendukung peningkatan produksi dan kualitas hasil tangkapan ikan di laut,” ujarnya.

Untuk itu, kata Atjo, DKP Sulteng setiap tahun menggelar pelatihan bagi para pengumpul dan pengolah data perikanan dalam upaya terus menerus memperbaiki metodologi pengolahan dan pengumpulan data, karena masih banyak jenis data lain yang dibutuhkan namun belum tersedia datanya.

Contohnya data tentang keterkaitan antara izin operasi kapal ikan dengan produksi perikanan. Data seperti ini sangat diperlukan untuk mengetahui apakah kapal-kapal bertonase besar 10 sampai 30 GT misalnya, yang memerlukan izin operasi, cukup produktif atau tidak, atau malah kapal-kapal kecil yang paling banyak memberikan kontribusi dalam produksi tangkapan ikan di laut, ujarnya.

Pada kesempatan itu, Kadis Kelautan dan Perikanan Sulteng juga membuka sosialisasi keselamatan kapal penangkap ikan yang diikuti para peserta dari seluruh Dinas Kelautan dan Perikanan se-Sulteng serta wakil dari empat pelabuhan perikanan yang dikelola DKP Sulteng yakni PPI Donggala (Kabupaten Donggala), Ogotua (Tolitoli), Pagimana (Banggai) dan Paranggi (Kabupaten Parigi Moutong). (R007/Chaidir)ANT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

%d bloggers like this: