Belasan Siswa Norwegia Kunjungi Touna-Morowali

TOUNA-Sebanyak sebelas siswa asal Sund Folk College (SFC) Norwegia yang didampingi dua gurunya melakukan kunjungan ke Kabupaten Tojo Unauna dan Morowali. Kunjungan belasan siswa tersebut untuk melihat secara langsung kondisi hutan tropis dan kehidupan suku Taa Wana Posangke di Kabupaten Morowali.

Guru Pembimbing dari Sund Folk College, Yakob S Thomson yang didampingi asisten guru Kristian Aga Ulvestad melalui penterjemah bahasa Azmi Sirajuddin dari Yayasan Merah Putih Palu mengatakan, keberadaan mereka beberapa waktu di Sulawesi, khususnya di Kabupaten Morowali dan Kabupaten Tojo Unauna di Sulawesi Tengah, untuk melihat secara langsung kondisi hutan tropis dan kehidupan suku Wana yang berada di Taa Wana Posangke Kabupaten Morowali.
Sedangkan di Kabupaten Tojo Unauna para siswa beserta gurunya untuk melihat lebih dekat kawasan pulau Togean.

“Kunjungan meraka merupakan rangkaian studi mereka dalam melakukan riset soal hutan tropis di Sulawesi yang akan dijadikan laporan untuk memasuki perguruan tinggi di negaranya. Selain itu, untuk melihat secara langsung program kerja Yayasan Merah Putijh ( YMP) Palu terkait dengan pemberdayaan masyarakat yang ada disekitar hutan tropis serta budaya yang ada di daerah ini,” kata Yakob melalui penterjemahnya.

Yakob menjelaskan, kondisi hutan tropis yang ada di Sulawesi Tengah masih cukup baik dan keberadaanya harus tetap dipertahankan sehingga kelestarian lingkungan hidup tetap terajaga, sehingga bermanfaat bagi kehidupan dunia. Selain itu, keberadaan Suku Taa Wana yang ada di Wana Posangke di Kabupaten Morowali juga sangat penting, karena mereka dengan kehidupannya dapat menjaga kelestarian hutan tropis.

Namun demikian kata dia, Suku Taa Wana yang hidup di hutan tidaK harus menutup diri dengan kehidupan luar dan harus tetapa bisa berinteraksi dengan kehidupan di luar hutan, sehingga dapat juga melihat kehidupan lainnya. Kebiasaan Suku Taa Wana Posangke, menurut dia sangat baik dalam menjaga hutan tropis. Bukan itu saja, budaya dan tradisi yang diterapkan suku tersebut dalam menjaga hutan harus mendapat apresiasi dari semua pihak.
“Suku Wana Posangke tidak harus menutup diri dalam melakukan aktivitasnya, sehingga apa yang mereka lakukan dalam menjaga hutan dan memp[ertahankan budaya dan tradisinya harus juga diketahui oleh orang banyak, sehingga apa yang mereka lakukan juga bermanfaat bagi orang lain dan dunia,” jelasnya.

Dia menambahkan, hasil kunjungan siswanya tersebut akan dijadikan laporan bagi sekolahnya dan juga negaranya, sehingga dapat bermanfaat bagi semua penduduka dunia khususnya dalam hal melestarikan hutan tropis yang ada di belahan asia pada umumnya dan Sulawesi Tengah pada khususnya.

“Hasil kunjungan ini akan dikampanyekan dengan mengunjungi sekolah-sekolah yang di Norwegia dan memberitahu ke publik soal kondisi hutan tropis dan pelestariannya,” sebutnya.

Selain mengunjungi Kabupaten Morowali dan Kabupaten Tojo Unauan di Sulawesi Tengah, belasan siswa asal Norwegia ini akan melakukan perjalanannya ke kota-kota lainnya di Indonesia, seperti Toraja dan Makassar di Sulawesi Selatan, Bali, Yogyakarta dan Jakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

%d bloggers like this: