Kerusakan DAS Palu Percepat Pendangkalan Teluk

Palu – Akademisi Fakultas MIPA Universitas Tadulako Palu DR. Abdullah menilai rusaknya Daerah Aliran Sungai (DAS) Palu menjadi faktor terbesar yang mempercepat terjadinya pendangkalan Teluk Palu.

“Terjadinya pendangkalan di Teluk Palu disebabkan rusaknya DAS Palu,” kata Abdullah yang dihubungi Sabtu.

Dia memaparkan salah satu faktor penyebab terganggunya ekosistem estuaria Sungai Palu adalah tingginya beban (material) sedimen dalam alirannya, sebagai akibat tingginya frekuensi dan volume erosi yang bersumber dari DAS Palu.

“Kondisi DAS Palu yang seperti ini sewaktu-waktu dapat menimbulkan limpasan aliran permukaan yang besar dan deras disertai erosi yang tinggi. Bila Sungai Palu tidak mampu menampung limpasan aliran permukaan tersebut, akan mengakibatkan terjadinya bencana banjir yang dapat menimbulkan korban jiwa dan kerugian sosial ekonomi yang tidak sedikit,” ujarnya.

Faktor lain yang berpengaruh terhadap stabilitas ekosistem adalah aktivitas penambangan sirtu (pasir dan batu) atau bahan Galian C yang semakin meningkat di sepanjang alirannya.

Dampak yang ditimbulkan adalah berubahnya pola aliran sungai ke arah sisi kanan dan kiri bantaran sungai, sehingga pada musim hujan, erosi tebing disertai longsor dapat bertambah luas. Akibatnya, dapat mengancam keberadaan tiga buah jembatan permanen dan permukiman penduduk di sepanjang garis sempadan sungai di dalam Kota Palu.

Dia memaparkan, faktor berikutnya yang tidak dapat diabaikan adalah limbah domestik seperti air limbah buangan dari permukiman, hotel, restoran/rumah makan, pusat-pusat perdagangan, dan rumah sakit.

Faktor ini akan semakin meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk yang mendiami kawasan DAS Palu, khususnya Kota Palu.

Penduduk yang mendiami wilayah DAS Palu pada 1973 sekitar 156.012 jiwa dengan kepadatan 14 jiwa/km2. Pada 1997 naik menjadi 363.176 jiwa dengan tingkat kepadatan 54,82/km atau naik 132,79 persen.

“Sebagian besar tinggal di Kota Palu, yang secara administratif meliputi tujuh kecamatan, terdiri atas tiga kecamatan di wilayah Kota Palu dan empat kecamatan di wilayah Kabupaten Donggala,” paparnya.

Semakin padatnya penduduk menyebabkan debit sedimen Sungai Palu makin besar. Hasil pengukuran pada November 1998, nilai kuantitatif debit sedimen Sungai Palu mencapai 0,187 m3/detik atau 16.128 m3/hari atau 483.840 m3/bulan atau 5.806.080 m3/tahun.

Implikasi dari besarnya beban sedimen ini adalah pendangkalan sungai Palu relatif cepat, terutama pada segmen Kota Palu. Hal ini ditandai dengan semakin banyaknya gosong-gosong pasir (pulau-pulau kecil) dalam aliran Sungai Palu dan delta di muara yang luasnya sudah sekitar satu ha. Gosong-gosong pasir dan delta tersebut akan membelokan aliran air ke arah tebing sungai dan akan mengikis tebing tersebut.

“Setelah hujan, warna air laut di Teluk Palu (sekitar muara) dengan cepat berubah warnanya menjadi kecoklatan akibat muntahan material sedimen dari Sungai Palu. Kemudian sedimen ini juga akan mengendap ke dasar teluk, khususnya pada jarak yang tidak terlalu jauh dari muara, dan akan mengubah morfologi pantai dan batimetri perairan teluk,” ujarnya.

Hal itu akan menyebabkan bentuk dan posisi garis pantai berubah dengan cepat dan perairan Teluk Palu pada jarak ini akan semakin dangkal. Dampak berikutnya dari pengendapan material sedimen ini adalah tunas-tunas karang yang pertumbuhannya hanya sekitar 1 cm/tahun, akan mati karena tertutup material sedimen tersebut. (ant)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

%d bloggers like this: