TNLL Perlakukan Maleo Secara Khusus

Palu – Burung maleo (macrocephalon maleo) merupakan salah satu satwa endemik Sulawesi Tengah yang mendapat perlakuan secara khusus untuk menjaga kelestariannya.

Kepala Bidang Konservasi Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu (BB-TNLL) Ahmad Yani mengemukakan di Palu, Sabtu, perlakuan khusus terhadap maleo karena adanya acaman kepunahan satwa langka tersebut.

“Satwa endemik ini dilindungi pemerintah karena termasuk langka dan bahkan hampir punah akibat perburuan liar dan gangguan terhadap habitatnya,” ujar Yani.

Bahkan, kata dia, ada kesengajaan dari masyarakat yang tidak bertanggung jawab menembak atau menangkap burung tersebut untuk kepentingan pribadi.

Guna mencegah kepunahan satwa tersebut, TNLL kini melibatkan masyarakat dalam pengawasan dan pelestarian satwa tersebut melalui program penangkaran.

Menurut dia, populasi maleo dewasa ini sekitar 1.000 ekor yang berada dalam areal konservasi seluas 400-an ha di Desa Saluki, Kecamatan Gumbasa, Kabupaten Sigi.

Populai itu meningkat drastis dibanding 2005 yang hanya sekitar 100 ekor setelah BB-TNLL melakukan penangkaran bersama kelompok tani Cakar Maleo Desa Saluki.

Bahkan, sebut dia, perhari ada 20 telur maleo yang dihasilkan untuk ditetaskan dan setelah dewasa dilepas-liarkan lagi ke habitat aslinya.

“Maleo bisah hidup dengan baik, jika vegetasinya juga baik. Olehnya, perlu ada upaya pelestarian lingkungan, untuk menjaga habitat maleo,” urainya.

Pelestarian maleo di BB-TNLL, kata Yani, juga dilakukan dengan menjaga agar kawasan yang menjadi habitat burung langka ini tidak disentuh oleh tangan-tangan penebang liar.(antarasulteng)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

%d bloggers like this: