Topang Kehidupan Lewat Tenun Sarung

DONGGALA-Sebagai negara yang kaya akan budaya dan keragaman serta keunikannya, membuat sebagian warga Donggala memilih menjadi penenun sarung. Penenun sarung merupaan pekerjaan turun temurun di Kabupaten tertua di Sulteng ini.

Salah satunya yang dilakukan dan digeluti seorang pengerajin sarung Donggala atau Buya Sabe. Menurut Firma (57) zaman dahulu, di Desa Towale, Kecamatan Banawa Tengah, Kabupaten Donggala, membuat satu lembar kain Buya Sabe merupakan pekerjaan rutin.

“Menenun sudah menjadi turun temurun kalau di desa kami,” ujarnya kepada wartawan kemarin (27/10).

Dia mengatakan, untuk menenun memerlukan ketekunan, kecermatan, dan harus betah duduk dengan kaki berselonjor dibawah alat tenun selama berjam-jam.

“Kalau tidak biasa, pekerjaan ini memang dilihat membosankan sekali,” paparnya.

Karena tenunan itu dari merajut benang hingga merapatkan dan merapikan tenunan, hal ini tentu membutuhkan waktu yang tidak sebentar.

“Paling cepat seminggu hingga satu bulan, tergantung waktu kita mengerjakanya,” katanya.

Lebih jauh dia mengatakan, sarung Donggala banyak jenis. “Ada Buya Awi, Buya Bomba, Buya Bomba Kota, Kombinasi Bomba dan Subi, Garusu, Buya Cura dan lain sebagainya,” terangnya.

Hampir setiap rumah di Desa Towale memiliki alat menenun. Pekerjaan sebagai seorang penenun sudah dia jalani sejak dia masih gadis. Pengetahuan menenunya dia peroleh dari ibunya.(SULTENGPOS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

%d bloggers like this: