PT ABM Diduga Menambang Pasir Tanpa Izin

Sigi – Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Sulawesi Tengah menemukan salah satu perusahaan tambang yang melakukan aktivitas pertambangan Galian C, di Desa Beka, Kecamatan Marawola, Kabupaten Sigi, tanpa mengantongi izin.

Menurut Departeman Pendidikan dan Advokasi Jatam Sulteng Moh. Taufik A. Latif, perusahaan yang duga melakukan aktivitas tanpa izin itu adalah PT. Anugerah Batu Mulia (PT. ABM). Hal tersebut ditemukan berdasarkan pengakuan masyarakat Desa Beka yang melaporkan ke Jatam.

“Berdasarkan pengaduan masyarakat Desa Beka, Jatam kemudian menindak lanjuti permohonan warga untuk mengecek, apakah perusahaan tersebut memiliki kelengkapan dokumen atau tidak,” kata Taufik dalam rilisnya yang dikirim ke redaksi Metrosulawesi, Minggu (25/10/2015).

Dari laporan itulah, sambung Taufik, kemudian pada tanggal 26 Agustus 2015, Jatam memohon salinan dokumen perizinan kepada pihak pemerintah Kabupaten Sigi. “Dan ditemukan fakta bahwa PT. Anugerah Batu Mulia yang beroprasi melakukan penambangan dan pembangunan pabrik penggilingan batu di sungai Pondo, Desa Beka tidak memiliki Izin Usaha Pertambangan,” terangnya.

Surat Pemda Sigi dalam hal ini, Kepala Dinas Energy dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kabupaten Sigi, kata Taufik, telah memberikan salinan dokumen, dimana dalam surat No; 826/135/DESDM/2015 tanggal 02 Oktober 2015, menyatakan bahwa PT. Anugerah Batu Mulia yang beraktifitas di Desa Beka hingga sekarang belum memiliki Izin Usaha Pertambangan, baru sekedar memberi persetujuan prinsip.

Padahal, diketahui bahwa izin prinsip hanyalah keyakinan Pemda bahwa, perusahaan dapat diberikan izin asalkan melengkapi berkas yang disayaratkan dalam Undang-undang.

“Masyarakat merasa ditipu dengan keberadaan perusahaan tersebut, dimana pada tanggal 23 November 2013 pemerintah desa telah mengadakan pertemuan dengan masyarakat desa, dan disepakati bahwa sungai Pondo harus diperbaiki, karena jika musim penghujan tiba, sungai Pondo mengalami banjir. Disitulah masyarakat membubuhkan tanda tangan kesepakatan agar normalisasi sungai dilakukan,” sambung Taufik.

Namun, setelah pertemuan tersebut, masyarakat heran, kenapa ada perusahaan yang mengambil material disungai tersebut dan hingga kini berubah menjadi penambangan. Bahkan normalisasi sungai hingga kini tak kunjung dilakukan. Melainkan, PT. Anugerah Batu Mulia telah melakukan eksploitasi tambang pasir dan batuan serta mendirikan pabrik penggilingan batu.

Hasil Investigasi yang dilakukan Jatam dilapangan terungkap, jika material yang telah diambil oleh pihak perusahaan mencapai 172 trek untuk tiga truk yang mengangkut material. Sedangkan jumlah truk yang beroprasi sebanyak 8 buah.

Selain itu, masyarakat juga khawatir akan adanya aktivitas di sungai Pondo, sebab selama ini sungai tersebut juga menjadi sumber kebutuhan bagi masyarakat desa tetangga yaitu Desa Sibedi. Mereka menggunkan air dari sungai Pondo untuk kebutuhan bertani di sawah, masyarakat takut jika kedepan sungai menjadi rusak akan berdampak buat pertanian warga.

Untuk itu, Jatam Sulteng mendesak kepada Pemda dan aparat penegak hukum segera melakukan penertiban terhadap perusahaan PT. Anugerah Batu Mulia di Desa Beka, mendesak Polres Sigi segera mengusut pelanggaran hukum yang dilakukan oleh pihak perusahaan yang telah nyata menimbulkan kerugian Negara.

Mendesak DPRD Sigi melakukan hearing dan memanggil pemerintah dan pihak perusahaan untuk mempertanggungjawabkan kepada publik aktifitas yang terindikasi illegal tersebut.(ms)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

%d bloggers like this: