Menenun Buya Sabe, Tradisi Turun Temurun Desa Towale

Donggala – Sejak dulu kala di desa Towale, Kecamatan Banawa Tengah, Kabupaten Donggala, menenun Buya Sabe (Sarung Donggala) menjadi aktifitas keseharian para ibu rumah tangga dan anak gadis perawan. Selain untuk mengisi waktu luang, menenun Buya Sabe juga menjadi sumber pencaharian perempuan kala itu.

Menurut salah seorang pengrajin Buya Sabe di desa Towale, Ibu Firma (57) mengatakan, membuat satu lembar kain Buya Sabe tergantung corak dan kerumitannya. Selain itu menenun Buya Sabe memerlukan ketekunan, kecermatan dan harus betah duduk dengan kaki berselonjor di bawah alat tenun selama berjam-jam setiap harinya.

Sepintas pekerjaan ini sangat menjenuhkan. Dari merajut benang hingga merapatkannya membutuhkan waktu yang lama.

“Paling cepat seminggu hingga satu bulan, tergantung waktu kita mengerjakannya,” kata ibu Firma kepada Metrosulawesi saat ditemui di kediamannya belum lama ini.

Sarung Donggala jenisnya bermacam-macam. Ada Buya Awi, Buya Bomba, Buya Bomba Kota, Kombinasi Bomba dan Subi, Garusu, Buya Cura dan lain sebagainya.

Hampir setiap rumah di desa tersebut memiliki alat menenun karena menenun sudah menjadi kegiatan turun temurun. Ibu Firma menuturkan, pekerjaan penenun Buya Bomba sudah dia sudah lakoni sejak dia masih gadis. Pengetahuan menenunnya dia peroleh dari ibunya.

“Kala itu pekerjaan menenun ini menjadi sebuah kewajiban bagi seorang anak gadis. Inilah yang diwariskan secara turun temurun,” ujarnya.

Namun seiring perkembangan zaman, sudah banyak anak gadis di desa tersebut merasa malu menjadi penenun Buya Sabe. Hal ini kata dia, menjadi sesuatu sangat yang mengkhwatirkan.

“Bila sudah tidak ada lagi anak gadis yang mau belajar menjadi penenun Buya Sabe, kerajinan tradisional ini akan punah dan tinggal kenangan,” pungkasnya.ms)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

%d bloggers like this: