HARI JADI TEATER OKTOBER SMAN 4 PALU – Harga Diri Seorang Pelacur

SEORANG pejabat tinggi negara menawar Firdaus, yang seorang pelacur menawan nan rupawan, untuk berkencan dengan bayaran yang sangat mahal. Namun dengan ajaran itu ditolak dengan keras Firdaus, hingga memancing murka sang pejabat tinggi negara, yang dengan kekuatan serta kekuatannya menjebloskan Firdaus ke dalam penjara, hingga akhirnya mengeksekusi sang pelacur.

Melihat paras Firdaus yang fisik sangat lembut, seorang sedikitpun tak merasa yakin jika sang pelacur akan mampu menghilangkan nyawa seseorang. Namun dengan jelas dan tegas menjawab pertanyaan sang psikolog, bahwa saat ini justru seringkali seorang pembunuh menampilkan dan bersembunyi dibalik kelembutan.

Sehingga, sang pelacur tak sedikitpun gentar melawan aparat keamanan yang menyebutnya telah melawan Negara, hanya dengan menolak ajakan kencan sang pejabat, meski dengan dengan bayaran yang teramat tinggi.

Si pelacur tak sedikitpun merasa gentar dengan ancaman hukuman mati atas dirinya, karena dia yakin bahwa semua diri manusia dan segala yang hidup akan mati.

Bahkan, si pelacur tidak membutuhkan pengakuan dan pembelaan dari siapapun. Dia juga tak memiliki niat sedikitpun untuk minta pengampunan kepada polisi, jaksa, hakim ataupun presiden.

Karena kehormatan tidak bisa diperoleh dengan permintaan pengampunan dari pelaku kejahatan sebenarnya. Para koruptor, yang menggunakan uang hasil kejahatannya untuk sekedar memenuhi hawa nafsunya, berfoya-foya, bersenang-senang, dengan membunuh orang miskin, anak-anak, perempuan dan seluruh rakyat, melalui korupsi.

Dan, bagi Firdaus, mati diujung senjata para serdadu lebih mulia, daripada harus ikut menikmati uang hasil korupsi, dari bayaran sang pejabat tinggi Negara itu.

Sosok Firdaus, digambarkan kelompok Teater Oktober, SMA Negeri 4 Palu selama kurang lebih 30 menit saat merayakan hari jadinya di Gedung Golni Sabtu Malam (24/10/2015).

Kegiatan diawali dengan pembacaan sajak oleh seniman Kota Palu Eman Saja, dan juga alumni SMA Negeri 4 lainnya, Hanafi Sarro.

Perayaan ulang tahun ini sekaligus menandai kebangkitan Teater Oktober setelah beberapa tahun vakum, dan ditutup dengan penggalangan dana Peduli Naomi, bocah penderita kanker stadium 4 asal Kabupaten Buol yang saat ini tengah terbaring lemah di rumah sakit di Jakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

%d bloggers like this: