Literasi Media di SMP dan SMA

Palu, Metrosulawesi.com – Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Sulawesi Tengah menyerukan kepada pelajar agar menjadi penonton yang cerdas. Bisa membedakan siaran yang baik dan buruk.

“Jadi kita harapkan bahwa dari sekian banyak tayangan-tayangan yang tidak baik, ya minimal tiga atau dua bisa dia ajarkan kepada adik-adiknya,” kata Indra Yosvidar, komisioner KPID Sulteng sesuai menjadi pembicara pada literasi media di SMA 8 Palu, Sabtu (24/10/2015).

Kegiatan literasi media dilaksanakan mahasiswa KKN Angkatan 72 Universitas Tadulako Palu di Tipo kepada siswa-siswi SMP dan SMA Desa Tipo. Tema yang diangkat “Mari Kita Tingkatkan Kesadaran Diri Akan Bahaya Penggunaan dan Pengaruh Media”.

Kegiatan literasi media ini mengenalkan baik dan buruknya suatu media, khususnya televisi yang telah menjadi kebutuhan pokok masyarakat di semua kalangan dan bagaimana menjadi penonton yang cerdas.

Menurut Indra Yosvidar, apa yang dilakukan mahasiswa KKN patut diapresiasi karena adanya kesadaran tentang pentingnya literasi media di kalangan pelajar. Sehingga, kata dia pelajar bisa memilih siaran yang baik.

“Bahwa ini yang betul dan ini tidak betul. Jadi kita semacam memberikan virus-virus untuk menangkal itu,” ujar Indra Yosvidar.

Dia berharap, nantinya siswa-siswi menerapkan di lingkungan kecil, terutama di rumah mereka.

Mahasiswa KKN, Fadlun mengatakan, tujuan diadakan literasi media karena banyak siswa SMP dan SMA yang belum mengetahui bagaimana efek media, apakah itu mendidik atau malah menjerumuskan.

“Tujuanya karena yang kita ketahui anak SMP dan SMA itu masuk kategori remaja ya, mereka itu belum mngetahui sebenarnya apa saja siaran-siaran atau media-media yang sebenarnya menjerumuskan atau mendidik. Tujuanya agar mereka dapat membedakan itu,” ujar Fadlun.

Menurutnya banyak siswa-siswi yang kelakuannya belum mencerminkan seorang pelajar. Mereka lebih banyak terpengaruh oleh gaya dan budaya yang mereka lihat di berbagai media. Karena apabila media disalahgunakan dapat menimbulkan hal-hal yang negatif.

Elfan Lesmana, salah satu peserta mengaku sangat bersyukur mendapat banyak pengetahuan setelah mengikuti kegiatan ini.

Elfan yang awalnya bertanya-tanya apa itu literasi media kini telah mengerti dan akan mulai menerapkan di rumahnya.

“Setelah ini saya akan lebih berhati-hati menonton dan akan mengawasi adik-adik saya setelah tahu bahaya media” ujarnya.

Kegiatan ini dimulai pukul 10.00 Wita dan berakhir pukul 11.30 Wita dan diikuti oleh puluhan pelajar SMPN 8 dan SMAN 8 Palu.

Dua jam per hari

Beberapa waktu lalu, Indra Yosvidar juga pernah merekomendasikan kepada sekolah agar mengimbau pelajar untuk menonton televisi cukup dua jam per hari.

“Banyak anak-anak menonton sudah lupa makan. Disuruh orang tuanya saja sulit. Jangan harap mau bergerak kalau tidak ada iklan,” kata Indra Yosvidar, belum lama ini.

Mantan Ketua Ikatan Jurnalis Televisi Sulawesi Tengah itu mengungkapkan sebuah penelitian perbandingan menonton dengan jam sekolah.

Dia mengatakan waktu menonton sebanyak 1.600 jam setahun sementara waktu belajar hanya 800 jam.

“Artinya, waktu menontonnya lebih banyak,” katanya.

Menurut Indra, hasil penelitian juga menyebutkan bahwa televisi tampil seperti Dinas Pendidikan bayangan dengan mata pelajaran sinetron.
Inilah yang memberi dampak besar terhadap prilaku generasi bangsa saat ini sebab televisi memiliki karakter sendiri yang mempengaruhi pemirsanya.

Karakter televisi kata dia, antara lain mendatangi pemirsanya, bersifat indrawi, gampang dicerna dan tidak membedakan pemirsanya.
Indra mengingatkan sejumlah peristiwa buruk terjadi akibat menonton televisi.

Di Indonesia sejumlah peristiwa juga terjadi di antaranya seorang bocah lima tahun nekat melompat dari lantai 19 sebuah apartemen karena dilarang menonton film Spiderman.(ms)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

%d bloggers like this: