Kabut Asap di Sulteng Mengkhawatirkan
http://www.metrosulawesi.com/

Kabut Asap di Sulteng Mengkhawatirkan

Palu – Kabut asap kebakaran hutan yang menyelimuti Kota Palu, Sulawesi Tengah tampak semakin tebal seperti yang terpantau, Jumat (23/10/2015). Bukan hanya di ibu kota provinsi, kabut asap juga terjadi di beberapa Kabupaten seperti Poso, Tojo Unauna, dan Buol.

“Di Palu banyak warga yang terkena Infeksi Saluran Pernapasan Akut atau ISPA dan juga batuk diduga penyebabnya dari asap kebakaran hutan,” kata Marli, salah seorang perawat salah satu rumah sakit di Kota Palu, belum lama ini.

Ia mengatakan kebanyakan pasien yang dirawat menderita penyakit ISPA dan juga gangguan paru-paru. Menurut dia, kemungkinan besar penyakit itu karena pengaruh asap kebakaran hutan.

Keluhan juga disampaikan Ny Yanti bahwa anak ketiganya yang masih duduk di bangku sekolah dasar (SD) harus dilarikan ke rumah sakit Anutapura Palu karena sesak napas.

“Kemungkinan ada hubungannya asap kebakaran yang sudah beberapa hari terakhir ini masih saja menyelimuti wilayah Palu,” katanya lagi.

Sementara itu, di Kabupaten Poso, Dinas Kesehatan setempat telah menyiapkan ribuan masker untuk mengantisipasi penyakit ISPA. Selain itu, juga disiapkan obat-obatan di Puskesmas.

Kepala Dinas Kabupaten Poso, dr Jani Moula mengatakan, pembagian masker untuk menangantisipasi terjadinya penyakit ISPA. Menurutnya, secara kasat mata jika kabut asap yang meliputi wilayah Kota Poso saat ini kondisinya mulai mengkhawatirkan.

“Kami saat ini telah membagikan masker tersebut ke seluruh Puskesmas dan wilayah yang terjadi dampak kebakaran hutan, masker itu nantinya akan diberikan kepada warga yang membutuhkan,” kata Dr Jani ditemui Metrosulawesi di ruang kerjanya, Jumat (23/10/2015).

Anggaran Kemensos

Sementara itu, Kementerian Sosial mengajukan anggaran senilai Rp 1,26 triliun untuk penanganan bencana asap.

Khofifah Indar Parawansa, Menteri Sosial mengatakan, anggaran tersebut akan digunakan untuk memberikan jaminan hidup bagi masyarakat korban bencana asap di tujuh wilayah Indonesia.

Khofifah mengatakan, besaran dana yang tersebut diajukan dengan beberapa perhitungan.

Pertama, jumlah kepala keluarga yang terkena dampak dari bencana asap di tujuh wilayah yang mencapai 1,4 juta. Kedua, besaran jaminan hidup.

Rencananya, korban asap akan diberikan bantuan jaminan hidup sebesar Rp 900.000 per kepala keluarga.

“Tapi sekarang tambah lagi penerimanya, dari 1,4 menjadi 1,6 karena Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah dan Merauke juga mengajukan,” kata Khofifah, Jumat (23/10/2015).

Instruksi Presiden

Terkait penanganan asap kebakaran lahan, juga mengenai penanggulangan dampaknya, Presiden Joko Widodo bersama sejumlah menteri menggelar rapat terbatas di Kantor Presiden, Jakarta, Jumat (23/10/2015).

Presiden menegaskan tidak akan memberikan izin baru untuk pembukaan lahan gambut. Ia juga meminta Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya untuk segera merestorasi lahan gambut yang telah terbakar.

“Untuk lahan gambut, saya perlu sampaikan untuk Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, tidak ada izin baru gambut,” ujar Jokowi saat membuka rapat terbatas.

Jokowi pun meminta Siti untuk mengkaji izin-izin lama. Sang Presiden juga melarang keras Kementerian Kehutanan untuk membolehkan membuka lahan yang belum dibuka.

Jokowi menyampaikan, pagi kemarin dia mendapat laporan bahwa jumlah titik api di Sumatra masih ada 826 titik, dengan jumlah terbanyak di Sumatra Selatan 703 titik. Sementara di Kalimantan terdapat 974 titik. Itu belum termasuk di Sulawesi dan Papua.(MS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

%d bloggers like this: