Titik Api di Sulawesi Terus Bertambah

Palu – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 102 titik api atau lokasi kebakaran lahan dan hutan di Pulau Sulawesi, meningkat drastis dalam beberapa hari terakhir dibanding sebelumnya 40-an titik.

Seorang prakirawan BMKG Palu, Rio Marthadi mengungkapkan Sabtu (17/10/2015), berdasarkan foto satelit, tercatat adanya peningkatan titik kebakaran lahan dan hutan di seluruh provinsi di Sulawesi.

Sebelumnya, kata dia, titik api di Sulawesi baru sekitar 40-an, tetapi pada Jumat (16/10/2015) titik kebakaran sudah mencapai 102. Menurut dia, peningkatan titik kebakaran di Sulawesi sudah cukup memprihatinkan sehingga perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah dan masyarakat.

Kalau sebaran titik api terus bertambah, maka akan semakin memperparah kabut asap di wilayah Palu dan sekitarnya.

“Terus terang kabut asap yang menyelimuti wilayah Palu, Donggala dan Sigi dalam dua hari ini sangat menggangu aktivitas penerbangan dari dan ke Palu,” katanya.

Khusus di Sulteng, kata dia, sebaran titik api terutama terjadi di Kabupaten Banggai, Tojo Unauna dan kabupaten lainnya.

Sementara kabut asap yang sekarang ini menyelimuti Palu, sebagian besar kiriman kebakaran hutan di Pulau Kalimantan karena angin bertiup dari Kalimantan menuju beberapa wilayah di Sulteng, terutama di Palu, Sigi dan Donggala.

“Hari ini kabut asapnya cukup parah dan jarak pandang terus berkurang sudah di bawah satu kilometer dan sangat riskan bagi penerbangan,” kata dia.

Kabut asap di Palu mengakibatkan aktivitas Bandara Mutiara Sis Aljufri terganggu.

“Pilot jelas tidak akan berani mendaratkan pesawatnya di Palu jika jarak pandang hanya berkisar satu kilometer (1.000 meter),“ ujarnya.

Bandara Mutiara Sis Aljufri di Kota Palu sejak pukul 07.00-11.30 WITA diselimuti kabut asap pekat kiriman kebakaran hutan di Pulau Kalimantan dan Sulawesi sehingga menyebabkan transportasi udara terganggu.

“Ada dua pesawat tidak bisa mendarat dan terpaksa berubah arah balik ke Bandara Hasanuddin Makassar,” kata Made Joniarta, salah seorang petugas menara kontrol Bandara Mutiara Sis Al Jufri Palu, Sabtu (17/10/2015).

Ia menjelaskan pesawat yang batal mendarat dan kembali balik lagi ke Makassar adalah Garuda Indonesia dan Lion Air. Sebenarnya, kata dia, kedua pesawat reguler tujuan Palu itu sudah berada di atas wilayah Kabupaten Donggala, Sulteng.

Namun karena jarak pandang hanya sekitar 1.000 meter, maka kedua pesawat tersebut memutuskan untuk kembali mendarat di Bandara Hasanuddin Makassar.

Made mengatakan pesawat Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA608 dari Makassar tujuan Palu seharusnya mendarat di Bandara Mutiara pada pukul 9.00 WITA.

Namun karena kondisi tidak memungkinkan meski sudah berada di wilayah Donggala, sekitar pukul 09.30 WITA terpaksa kembali lagi ke Makassar.
Begitu pula pesawat Lion Air yang sudah masuk wilayah Donggala pada pukul 8.30 WITA tetapi juga harus balik ke Makassar sekitar pukul 8.35 WITA.

Menurut Made, sangat beresiko tinggi, jika kedua pesawat harus memaksakan diri untuk mendarat dengan jarak pandang hanya 1.000 meter. Karena normalnya jarak pandang bagi pesawat besar yang akan mendarat harus di atas 3.000 meter.

Sejumlah penumpang yang dihubungi melalui telepon dari Palu mengatakan pesawat yang mereka tumpangi beberapa kali berputar-putar di atas Kota Palu namun tidak bisa mendarat karena kota yang terletak di lembah tersebut tidak kelihatan dari udara.

“Sekitar tiga jam kami di udara sampai akhirnya kembali lagi mendarat di Makassar,” kata Ramli Doho, salah seorang anggota DPRD Tolitoli yang menjadi penumpang Garuda Indonesia.

Ramli mengatakan saat hendak mendarat di Palu, sebagian besar penumpang cemas karena sudah hampir satu jam pesawat tidak juga mendarat.

“Sudah hampir dua jam penerbangan belum bisa mendarat. Kami sudah curiga ada yang tidak beres. Awak pesawat akhirnya mengumumkan, pesawat akan kembali ke Makassar,” katanya.

Menurut Ramli, penumpang yang sebagian tamu dari luar negeri tersebut akhirnya dikembalikan ke terminal Bandara Hasanuddin, namun belum diketahui kapan mereka akan diberangkatkan kembali.

Peristiwa tersebut juga dikemukakan seorang penumpang lainnya Dewi Chaeriyah. Perempuan pelaku usaha perdagangan di Kota Palu itu mengatakan pesawat beberapa kali berputar-putar di udara saat hendak mendarat, namun gagal hingga akhirnya kembali lagi ke Makassar.

Dewi mengatakan para penumpang tersebut sudah berada di Bandara Hasanuddin pukul 03.00 WITA karena sebelumnya hanya diinapkan di salah satu hotel tidak jauh dari bandara akibat gagal diberangkatkan pada Jumat siang.

Sabtu pagi, para penumpang diterbangkan sekitar pukul 07.40 WITA dan kembali lagi ke bandara semula sekitar pukul 10.30 WITA.

“Kami cemas, kemungkinan kami mencari transportasi alternatif melalui darat ke Palu,” kata Dewi. (zal/ant)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

%d bloggers like this: