Hentikan Kriminalisasi Aktifis Lingkungan

Palu – Upaya kriminalisasi terhadap aktifis lingkungan ditengah iklim demokrasi masih terus terjadi, terakhir adalah tewasnya Salim Kancil dan Tosan di Lamongan Jawa Timur oleh sekelompok orang dengan latar belakang penolakan pasir di desanya, yang terindikasi melibatkan aparat keamanan.

Di Sulawesi Tengah, tercatat tahun 2012 tewasnya petani di Kecamatan Balaesang Tanjung yang tertembak aparat kepolisian, kasus serupa juga pernah terjadi di Tiaka. Tahun 2010, kriminaliasi dialami Eva Susanti Bande yang harus mendekam dalam penjara selama beberapa tahun, kemudian tahun 2014 dua petani di Banggai dituding telah melakukan penyerobotan lahan perkebunan sawit.

Terakhir, enam warga Labuan harus berurusan dengan polisi dikenai pasal 170 KUHPidana atas dugaan tindak pidana pengrusakan. Keenam warga diminta memenuhi panggilan polisi pada Kamis (15/10/2015) berdasarkan laporan polisi : LP/104/IX/2015/SEK LBn pada 08/09/2015.

“Di desa saat ini, kami sedang berkumpul mendiskusikan nasib keenam kawan kita yang berniat baik menyelamatkan lingkungan tempat kita tinggal. Sayang kasus ini menimpa mereka yang selalu berniat baik,” ujar salah seorang petani yang tidak menyebutkan namanya.

Kepala Departemen Advokasi dan Kampanye Eksekutif Daerah Walhi Sulawesi Tengah Aries Bira menjelaskan, bahwa laporan warga kondisi desa saat ini dalam keadaan aman dan tenang, tapi tentu ini tidak berlaku kepada keenam warga tersebut, yang mungkin merasa tertekan.

“Walhi menilai, pemanggilan ini menekan nilai patriotis dalam melakukan pembelaan lingkungan, warga akan takut melawan yang di anggapnya benar. Tentu ini satu cerita yang akan terus berulang, karena dimanapun ada perlawanan rakyat dalam investasi berkedok Pendapatan Daerah atau Pertumbuhan Ekonomi pasti akan ada perlawanan balik fihak mereka. Contoh saja sederet aksi kriminalisasi, intimidasi bahkan hingga berujung matinya para Salim Kancil di Lumajang. Tentu kami berharap kasus yang sama akan terulang kembali di sini,” kata Aries.

Dia menjelaskan, Walhi belum yakin bahwa pelaku pelemparan adalah warga, karena dalam aksi-aksi sebelumnya tidak pernah terjadi. Jika betul hal itu dilakukan warga, tentu harus melihat kondisi mereka yang hanya terus dijanji, bahwa perusahan akan berhenti beroperasi.

Selain itu, mestinya polisi juga memanggil pihak perusahaan, karena sejak Agustus yang lalu telah dimintai berhenti sementara pemerintah desa. Namun fakta di lapangan warga menemukan perusahaan masih terus beroperasi.

Kronologis

Berdasarkan hasil pertemuan pada Jumat 21 Agustus 2015, disepakati pemberhentian ketiga perusahaan yaitu CV. Putra Labuan, CV Lelea Ratan dan CV Rementana di wilayah desa Labuan Toposo. Hal ini disepakati bersama antara unsur pemerintah desa dan masyakat yang hadir yang dihadiri 38 orang.

Tanggal 31 Agustus 2015 Kepala desa mengirimkan surat kepada Operator alat CV Reme Thana yang minta agar proses penggalian diberhentikan untuk sementara, sambil menunggu pertemuan berikutnya.

Namun faktanya perusahaan masih terus beroperasi.

Pada Senin, 6/9/2015 Pukul : 20:00 WITA warga berkumpul dirumah ketua RT untuk merencanakan aksi di lokasi perusahaan

Selasa, 7/9/2015 Pukul : 15 :30 WITA massa saling memberikan informasi dan bertemu di Somel dekat lokasi penggalian, yang berjarak sekitar 100 m. Dari Somel sekitar 60 orang masa dari dusun 1 dan dusun 2 Labuan Toposo melihat masih ada 1 alat berat milik CV Remetana yang beroperasi, melihat hal tersebut masa mendekati lokasi penggalian, dan di lokasi penggalian masa menemui Edward, pelaksana dan Aco, operator alat berat.

Massa langsung menanyakan ke Edward dan Aco “ mengapa alat masih beroperasi” Edward dan aco menjelaskan bahwa alat tersebut rusak. Padahal sebelumnya massa melihat dari jarak 100 m lokasi Somel alat tersebut tidak rusak dan masih beroperasi,

Massa minta Edward dan Aco menghubungi pemilik perusahaan, Ivone, yang diangkat suaminya, dia juga menegaskan bahwa alat tersebut rusak. Karena massa melihat alat tersebut masih beroperasi, massa mendesak Edward dan Aco untuk menghidupkan alat berat tersebut dan ternyata alat tersebut hidup, massa memita alat tersebut dipindahkan ke labuan Induk (Stock file) pada saat diketahui alat tersebut hidup sambil menggiring alat tersebut ke labuan induk, entah siapa yang memulai massa melempari alat berat tersebut.

Menurut pengakuan warga, mereka gusar dengan aktivitas perusahaan ini, pasalnya sejak 2014 yang lalu Terjadi banjir besar di wilayah Kecamatan Labuan mengakibatkan banyaknya tanaman (pohon kelapa, pohon kakao ikut terbawa banjir) kerkebunan yang ikut terbawa banjir, khususnya masyarakat desa Labuan Toposo. Selain itu bendungan irigasi menjadi jebol disebabkan banjir besar.

Sejak saat itu, masyarakat mulai merasa keberatan atas beroperasinya alat berat di aliran sungai yang ada di wilayah Desa Labuan Toposo. Karena masyarakat merasa akibat adanya penggalian sungai sehingga badan sungai semakin meluas. Selain itu menurut pengakuan masyarakat ketika musim kemarau. Masyarakat juga menjadi kesulitan untuk mendapatkan air bersih bahkan ada beberapa titik sumur milik masyarakat yang ada di pinggirian sungai menjadi kering.(ms)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

%d bloggers like this: