Warga Kewalahan Padamkan Api, Ratusan Pohon Cengkeh Terbakar

Warga Kewalahan Padamkan Api, Ratusan Pohon Cengkeh Terbakar

Donggala – Warga Desa Alindau dan Desa Sikara Kecamatan Sindue Tobata Kabupaten Donggala terus berjuang memadamkan kebakaran di kebun-kebun mereka sejak Jumat pekan lalu. Puluhan hektar kebun produktif milik masyarakat ludes dilalap api dan mulai mulai masuk ke kawasan hutan.

Saat ini, ada tiga gunung yang telah hangus terbakar sejak kebakaran lahan yang melanda Desa Alindau. Bahkan di Gunung Simpuledo di Dusun Sigarongga, kebakaran lahan sudah mengancam pemukiman warga.

Agus, masyarakat setempat yang kebunnya terbakar mengatakan, ada puluhan hektar pohon cengkeh, kakao, pohon pisang dan tanaman produktif lainnya musnah terbakar. Upaya pemadaman dilakukan secara gotong royong masyarakat dengan peralatan apa adanya.

“Cengkih saya hampir 200 pohon habis terbakar. Saya hanya bisa pasrah dan tidak tau mau bikin apa, bukan cuma saya yang jadi korban, banyak masyarakat yang jadi korban,” kata Agus, Selasa (6/10/2015).

Ketua RT di Dusun Sigaronda, Rafik mengatakan, masyarakatnya bersama warga Desa Sikara selama tiga hari telah berupaya memadamkan api dengan peralatan seadanya.

Sementara itu, Kepala Desa Alindau, Karim H Jabar mengatakan ada bantuan yang diberikan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Donggala berupa lima buah tangki air solo dan satu lusin masker.

“Ada yang dibantukan BPBD Donggala berupa hand sprayer serta masker satu lusin, juga air mineral beberapa lusin. Itupun sebenarnya bukan jatah desa ini hanya lebihnya yang dibawa ke daerah Sabang,” jelas Karim H Jabar.

Saat ini ada tiga gunung yang masih beresiko terbakar karena masih memiliki titik api yakni Kayuwadi, Siufu dan Gunung Bululemo.

Satwa Endemik Terancam

Sementara itu, di Kabupaten Sigi juga terdapat tiga titik kebakaran hutan yakni di Desa Kamarora, Kecamatan Nokilalaki, Desa Tongoa dan Lemban Tongoa, Kecamatan Palolo.

Besar Taman Nasional Lore Lindu (TNLL) menyatakan kebakaran hutan tersebut diduga karena ulah warga yang membakar kebun dan apinya merambat ke kawasan hutan lindung di daerah itu.

“Penyebab utamanya ada warga yang membersihkan areal kebun dengan membakar limbah,” kata Kepala Bidang Tehnis Konservasi Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu (TNLL) Ahmad Yani di Palu, Selasa (6/10).

Dia menjelaskan ada warga sekitar kawasan membakar lahan dan karena tidak bisa dipadamkan merembet ke areal Kawasan Taman Nasional.

Siapapun oknum warga yang melakukan pembakaran lahan dan mengakibatkan kebakaran hutan, dipastikan ditindak tegas.

“Hanya saja untuk sementara ini, pihak TNLL masih konsentrasi penuh untuk memadamkan api agar tidak semakin meluas kebakaran hutan,” katanya.

Apa lagi, Kawasan Taman Nasional di wilayah Kecamatan Palolo dan Nokilalaki banyak hidup dan berkembangbiak satwa-satwa endemik Sulawesi yang dilingdungi keberadaanya.

Satwa-satwa endemik yang hidup dan berkembangbiak di kawasan itu antara lain anoa pegunungan (bubalus quarlesi) dan anoa dataran rendah (bubalus depressicornis), monyet, babirusa, tarsius (tarsius dentatus), burung maleo (macrocephalon maleo), rusa dan berbagai satwa lainya.

Kebakaran tersebut mengancam habitat satwa-satwa yang dilindungi maupun tidak. Luas areal TNLL sekitar 219 ribu hektare tersebar di dua kabupaten yaitu Sigi dan Poso.

Dalam upaya pemadaman, pihak TNLL bekerja sama Pemkab Sigi, BPBD, anggota TNI, dan masyarakat. Hingg kini kebakaran hutan dalam Kawasan Taman Nasional belum juga padam.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sulawesi Tengah telah menerima laporan soal kebakaran hutan dari Pemkab Sigi dan telah berkoordinasi untuk upaya penanggulangan pemadaman agar tidak terus meluas.

“Kami sudah berkoordinasi dan berharap mendapat perhatian serius dari Pemkab Sigi,” kata Kepala BPBD Sulteng Bartholomeus Tandigala yang dihubungi lewat telepon saat berada di Ambon, Maluku.

Ia mengatakan BPBD Kabupaten Sigi sudah mengambil langkah-langkah yang diperlukan dan bekerja sama dengan Dinas Pemadam Kebakaran Sigi untuk memadamkan api.

BPBD tidak memiliki kendaraan operasional khusus untuk digunakan memadamkan kebakaran hutan. “Yang punya kendaraan operasional adalah Dinas Pemadam Kebakaran setempat,” katanya.

Berdasarkan laporan yang diterima BPBD Sulteng, beberapa hari lalu terjadi kebakaran hutan di Kecamatan Palolo dan Nokilalaki.

Dua titik kebakaran hutan di dua wilayah tersebut yaitu di sekitar kawasan hutan di Desa Lembantongoa dan Desa Kamarora, Kecamatan Nokilalaki.

Hutan yang terbakar dan hingga kini masih belum padam tersebut masuk dalam areal hutan lindung Taman Nasional Lore Lindu (TNLL).

Ia menambahkan sudah beberapa hari ini, pihak TNLL, BPBD, Dinas Pemadaman Kebakaran, anggota TNI dibantu masyarakat mencoba memadamkan api.

Namun, kata dia, karena areal hutan yang terbakar sudah cukup luas dan berada pada lokasi yang sangat sulit dijangkau, kebakaran belum berhasil diatasi. (bj/ant)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

%d bloggers like this: