Ritual PEPOMAHILE, Tradisi Penerimaan Tamu di Lembah Besoa

SULTENG POST- Nusantara kaya beragam adat istiadat dan aneka budaya. Kekayaan tradisi yang tiada tara. Di Sulawesi Tengah, tradisi-tradisi lama itu pun masih dipelihara. Seperti yang masih hidup di Lembah Besoa, Lore, Kabupaten Poso.

Alunan musik bambu yang mengisi hati dengan semangat, teriakan sambutan peaju yang menghentak mengiringi penerimaan tamu, saban waktu menjadi pemandangan keseharian di Lembah Besoa, Lore, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah.

Itu adalah awalnya. Lalu setelah tamu duduk, ritual Pepomahile pun digelar. Ini yang menjadi inti tradisi penerimaan tamu.

Ritu Lage, 67 tahun, pensiunan guru yang juga sesepuh adat setempat mengatakan tidak sembarang tamu mendapat penghormatan tradisi macam itu.

“Hanya mereka yang berhati baik dan bermaksud baiklah yang kami terima dengan ritual seperti itu,” kata dia.

Seperti pada Selasa, 29 September 2015, masyarakat Lembah Besoa kembali menerima tamu. Kali ini tamunya adalah Gubernur Sulawesi Tengah Longki Djanggola. Penyambutan pun digelar semarak. Ada musik bambu. Ada pula tari peaju yang ditarikan para penari lelaki dengan parang panjang dan tameng. Dulu ini juga biasa ditarikan untuk meluapkan kebangaan menyambut pahlawan perang yang baru kembali dari medan laga. Juga ditampilkan pada saat menerima pemimpin atau tetua masyarakat yang datang berkunjung.

Usai itu barulah Pepomahile digelar. Ini adalah perlambang ketulusan dan kesucian hati masyarakat di Lembah Besoa menerima tamu. Biasanya, sebelum prosesi adat dimulai, sang tamu dipakaikan siga, ikat kepala khas Besoa dan pakaian kebesaran dari kain tenun kulit kayu. Namun, biasa hanya dipakaikan siga.

Di depan tamu, serombongan anak muda membawa bingka, bakul dari anyaman rotan berisi beras ladang dan telur serta seekor ayam kampung dan sebambung air nira enau sudah menyiapkan diri.

“Nantinya yang diserahkan pertama adalah beras ladang sebagai perlambang hasil bumi dan makanan masyarakat Lembah Besoa, lalu telur dan ayam kampung dengan harapan diberkahi oleh tetua atau pemimpin kami yang datang agar menghasilkan keturunan yang banyak. Lalu sang tamu atau pemimpin kami itu diberi minum saguer manis, sebagai perlambang kemanisan hati kami menyambutnya,” sambung Mamaha, tetua adat Besoa.

Biasanya, imbuh Ritu Lage, selain itu kami biasa menyerahkan seekor kerbau dan seperangkat baju dari kain kulit kayu serta parang adat buat tetua atau pemimpin kami yang datang.

“Kalau yang itu adalah pemberian yang berat konsekwensinya. Ini hanya kami berikan kepada orang yang benar-benar kami percaya dapat mengemban amanah memelihara adat istiadat, kekayaan alam dan menjaga masyarakat kami. Dan kami sudah berikan itu pada Pak Gubernur Longki Djanggola karena kami percaya dia mampu,” urai Ritu Lage.

Untuk mencapai Lembah Besoa, kita dapat menumpang mobil umum atau menyewa mobil dari Palu. Sewa angkutan umum cuma Rp70 ribu. Bila ingin merasakan sensasi petualangan kita bisa mencoba naik sepeda motor atau trail. Kita bisa menikmati indahnya panorama alam sepanjang jalan. Hutan yang rapat. Hamparan lembah nan menghijau pasti memanjakan mata. Dari Palu jaraknya kurang lebih 150 kilometer.**

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

%d bloggers like this: