Kebakaran Hutan di Donggala Terus Meluas

Kebakaran Hutan di Donggala Terus Meluas

Donggala – Kebakaran lahan dan hutan di Kabupaten Donggala dalam beberapa pekan ini terus meluas. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Donggala yang turun tangan juga kesulitan memadamkan api.

Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Donggala, Moh Mursid mengatakan, hingga Kamis (1/10/2015) kemarin, luas lahan dan hutan yang terbakar mencapai 300 hektare.Api juga, kata dia sudah melalap sebagian perkebunan cengkih milik warga.

“Cengkih sekitar umur dua tahun sampai tiga tahun ikut terbakar,” kata Mursid ditemui di kantornya, Jalan Pelabuhan, Kelurahan Boya, Kecamatan Banawa, Kamis (1/10/2015).

Dia mengkhawatirkan titik api akan terus meluas. Sebab, kata dia pihaknya kesulitan memadamkan api yang membakar hutan di daerah tersebut karena lokasi kebakaran sulit dijangkau.

Meski demikian pihaknya terus berupaya secara menyeluruh dengan mengerahkan berbagai peralatan untuk memadamkan api. Dalam proses pemadaman warga turut membantu dengan alat semprot.

“Kita juga membangun posko untuk menyuplai logistik bagi petugas dan warga membantu memadamkan kobaran api,” ujar Mursid.

Dia mengatakan, ada tiga titik api masing-masing di Kecamatan Dampelas dan Kecamatan Sojol yang belum berhasil dipadamkan. Adanya titik api diketahui dari informasi Polda Sulawesi Tengah.

“Ada tiga titik api yang masih menyala. Polda Sulteng sampikan ke polsek di wilayah itu, kemudian mereka sampaikan ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah,” ungkap Mursid.

Asap di Buol

Dari Buol dilaporkan, kabut asap mulai mencemari kualitas udara dan mengancam kesehatan warga setempat. Kepala Bidang Damkar dan Pekuburan, Dinas Tata kota dan Perumahan (Distarum) Buol, Padly Pandjimbung menyatakan, kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan diperkirakan mulai mencemari kualitas udara.

“Saya juga bukan ahli di bidang ini, tetapi kalau melihat kondisi cuaca utamanya matahari yang kelihatan suram itu karena terhalang kabut asap, jelas kalau dari segi kesehatan sudah ada pencemaran udara,” kata Padly, kepada Metrosulawesi di kantornya, Kamis (1/10/2015).

Menurut Padly, berdasarkan pengamatannya keberadaan kabut asap akhir-akhir ini diakuinya mulai terasa mengganggu utamanya pada saat berada di luar rumah. Hal itu disebabkan dari peristiwa kebakaran baik yang terjadi di kabupaten Buol maupun di wilayah lain seperti Kalimantan dan Sumatera.

“Yang jelas kita saja atau bapak terganggu sudah dengan asap ini mau jalan atau keluar rumah ada sudah yang pakai masker, itu semua dampak dari kebakaran secara nasional efeknya sampai ke sini seperti di Singapura itukan kiriman dari Kalimantan,” terang Padly.

Melihat kondisi asap yang mulai mengkuatirkan tersebut, kata Padly, pihaknya bersama instansi teknis terkait berupaya melakukan antisipasi meluasnya resiko dampak.

Lebih lanjut Padly, menuturkan peristiwa kebakaran yang melanda hutan dan lahan perkebunan di daerah itu di beberapa titik tertentu utamanya lokasi kebakaran yang akses jangkauan sulit terjangkau hingga kini masih berlangsung.

“Kalau berdasarkan kajian BMKG hujan belum turun sampai Desember, artinya musim kemarau diprediksi hingga akhir tahun. Antisipasi kita kedepan hal-hal yang berkaitan dengan dampak kemarau ini bersama intansi lain secara intensi lakukan pengawasan serta apa yang jadi keluhan masyarakat tindaklanjuti,” tandas Padly.

Sebagaimana diketahui dampak dari el nino berimbas pada kemarau berkepanjangan tidak saja di kabupaten yang telah berlangsung kurun lima bulan terakhir mengakibatkan terjadi kekeringan.

Di Buol, akibat kondisi tersebut tidak saja berdampak gagal panen namun juga krisis air bahkan terjadi kebakaran hutan maupun lahan perkebunan warga setempat.

Berdasarkan data Damkar Distarum Buol mencatat sebanyak 12 titik kebakaran puluhan hektar hutan dan kebun warga terjadi dalam kurun dua bulan terakhir tersebar di enam kecamatan. Ratusan pohon cengkeh, pala, coklat, kelapa, kopi dan tanaman lainya ludes terbakar. Kerugian diperkirakan ratusan juta rupiah.

Peristiwa serupa kembali landa Kecamatan Bokat Desa Langudon pada Minggu (13/9/2015). Menurut Camat Bokat Martini Lamaka, sebanyak 100 pohon coklat dan seratusan lebih tanaman kopi milik petani turut terbakar.

Sementara itu, sebagaimana diberitakan Metrosulawesi edisi Minggu (20/9/2015). Meski belum berpengaruh terhadap aktifitas namun warga masyarakat di Kabupaten Buol menilai beberapa hari terakhir kabut asap mulai terlihat dalam kota Buol dan sekitarnya. Bahkan warga mengaku keberadaan kabut asap mulai terasa memerihkan mata.

Badan Lingkungan Hidup (BLH) kabupaten Buol sendiri mengaku hingga sejauh ini belum melakukan pengambilan sampel udara untuk mengetahui dampak kebakaran hutan dan lahan terkait musim kemarau berkepanjangan(ms)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

%d bloggers like this: