Ribuan Pohon Cengkeh Terbakar

Palu – Petani cengkeh di Kabupaten Donggala Sulawesi Tengah harus menanggung kerugian akibat terbakarnya ribuan pohon cengkih miliknya. Warga setempat memperkirakan ada ribuan pohon yang terbakar.

Pantauan Metrosulawesi, Jumat (25/9/2015) malam, sejumlah titik di sepanjang jalan menuju wilayah pantai barat Kabupaten Donggala, terdapat hutan yang masih menyisakan titik api dan di kejauhan juga masih banyak terlihat kobaran api yang membakar hutan.

Bahkan, sepanjang jalan di wilayah pantai barat Kabupaten Donggala ini yang rata-rata masih merupakan hutan liar kini tampak pepohonan yang mengering dan sebagian lagi telah hangus akibat kebakaran hutan yang terjadi.

Kendaraan yang melintas di wilayah ini, khususnya pada malam hari sangat terganggu akibat kabut asap yang cukup tebal.

Sejumlah warga yang ditemui mengatakan, kebakaran hutan tersebut sudah berlangsung selama beberapa pekan lalu. Hampir tiap hari bermunculan titik api baru. Meski demikian, penyebab kebakaran tersebut belum diketahui.

Selain itu, menurut sejumlah warga yang sempat ditanyai juga mengaku selain hutan liar, berhektar-hektar kebun khususnya pohon cengkih warga banyak yang ikut terbakar.

“Kalau di atas sana itu ada juga pohon cengkeh sekitar 6000 pohon katanya yang tabakar, tapi orang tidak bisa bikin apa-apa juga karena yang tabakar ini hutan, baru musim panas kan,” ungkap Abbas, salah seorang warga di Dusun Pasambi, Desa Tonggolobibi, Kabupaten Donggala.

Sejumlah warga berupaya memadamkan api dengan menggunakan alat seadanya. Di Desa Siraru atau di jalur yang lebih dikenal warga setempat dengan sebutan Gunung Salome, juga tampak sejumlah titik api masih menyala membakar hutan. Sebagian tepi jalan di sana juga hutannya terlihat telah hangus terbakar.

Metrosulawesi yang mengunjungi lokasi tersebut, sejumlah warga tampak berupaya memadamkan api yang masih tersisa di tepi jalan dekat lahan perkebunan warga.

Buol

Sebelumnya diberitakan, kebakaran hutan juga terjadi di Kabupaten Buol. Data Dinas Tata Ruang dan Perumahan Kabupaten Buol, mencatat puluhan hektar hutan dan perkebunan milik warga di 12 titik terbakar dalam dua bulan terakhir.

“Data ini belum termasuk kebakaran hutan yang jaraknya puluhan kilometer lokasinya, jadi ini baru lokasi yang sempat kita datangi dan lakukan pemadaman dibantu warga setempat dengan alat seadanya,” kata Kabid Damkar dan Pekuburan, Dinas Tata Ruang dan Perumahan Kabupaten Buol, Padly Padjimbung di ruang kerjanya, Sabtu (12/9/2015).

Fadly, menuturkan berdasarkan data tersebut diperkirakan kerugian materil mencapai ratusan juta rupiah. Lanjut Fadly, menuturkan kebakaran pertama terjadi di kawasan perbukitan antara kecamatan Bokat dan Kecamatan Bunobogu pada awal Agustus lalu.

Diperkirakan sekitar 50 hektar hutan diperbukitan gundul akibat terbakar dan sampai saat ini masih terlihat kepulan asap. Dia menambahkan, di wilayah yang sama peristiwa serupa juga terjadi di Desa Pongan, Desa Kantanan luas semak dan kebun warga yang terbakar berkisar enam hektar.

Kemudian, di kecamatan Momunu ada dua titik kebakaran semak, Desa Lamadong Satu dan Desa Panimbul yang nyaris merembet ke perkebunan warga sekitar seluas kurang lebih empat hektar.

Lokasi berikut, di wilayah kecamatan Biau, terdapat lima titik masing-masing, Kelurahan Leok I, Dusun Tontoyong, Dusun Los dan area hutan sekitar lokasi pembangkit listrik (PLN) serta Dusun Bundo Kelurahan Leok II dan gunung Kali Kelurahan Kali. Total keseluruhan lahan yang terbakar seluas 17 hektar termasuk kebun milik warga berisikan tanaman cengkeh, pala, coklat dan kelapa ludes terbakar.

“Waktu kita ke lokasi pemiliknya menangis histeris ketika melihat cengkehnya terbakar, kita sudah berupaya semaksimal mungkin lakukan pemadaman tapi karena medan yang sulit kita tidak dapat berbuat banyak,”sambung Fadly.

Sedangkan di kecamatan Lakea, terdapat satu titik lokasi kebakaran kebun cengkeh milik warga setempat seluas lima hektar kering kerontang akibat terbakar.

“Juga di perkebunan kelapa sawit milik PT Sonokeling Buana luasan lahan yang terbakar kita belum tahu berapa hektar tapi kalau 10 hekataran mungkin lebih,”ujar Fadly.

Diakui Fadly, karena faktor keterbatasan fasilitas serta kemampuan anggota damkar yang masih minim di tambah kondisi medan sulit juga sumber air yang jauh dari lokasi kebakaran sehingga menyulitkan proses pemadaman.

“Rata-rata lokasi kebakaran mobil tidak bisa masuk jadi kita hanya menyuplai air kemudian warga menggunakan jerigen, ember atau benda yang bisa menampung air selanjutnya warga ambil air dari mobil dan memikul ke lokasi untuk memadamkan api,”tandas Fadly(ms)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

%d bloggers like this: