Musik Etnik dan Tari Bungku Akan Tampil di Sail Tomini

Bungku, Metrosulawesi.com – Pekan budaya yang diikuti 14 kabupaten/kota se-Sulawesi Tengah, akan turut meramaikan Sail Tomini yang dipusatkan di Kabupaten Parigi Moutong pada 19 September mendatang.

Sebagai kabupaten yang kaya akan budaya tradisional, Kabupaten Morowali memberangkatkan kontingen sebanyak 40 orang, termasuk official. Para kontingen budaya tersebut, secara resmi dilepas oleh Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabudpar) Kabupaten Morowali, Halim, mewakili Bupati Morowali, Anwar Hafid, Jumat (11/09/2015).

Dalam sambutannya, Halim berharap, agar kontingen budaya yang mengikuti lomba pekan budaya di Kabupaten Parigi Moutong, dapat memberikan penampilan terbaik dan bisa menjadi yang terbaik. Serta dapat membawa harum budaya Kabupaten Morowali.

Sementara, Kepala Bidang Kesenian dan Perfilman, Disporabudpar Kabupaten Morowali, sekaligus Ketua Rombongan, Nuryazillah Ahmad mengatakan, untuk pekan budaya tahun 2015, Kabupaten Moròwali akan menampilkan 4 kegiatan. Antara lain, pawai budaya, musik tradisi kreasi, tari kreasi, dan lomba busana adat Morowali.

Menurutnya, pekan budaya merupakan program nasional yang diselenggarakan setiap tahun. Untuk tahun 2015, pekan budaya memiliki nilai plus, karena dirangkaikan dengan Sail Tomini 2015.

“Kami akan berusaha berbuat yang terbaik dalam mempromosikan budaya Bungku. Sehingga, mereka yang di luar sana tahu kalau Bungku adalah sebuah kerajaan yang kaya akan ragam budaya,” ujar Nuryazillah.

Dia mencontohkan, seperti musik etnik Ndengu-ndengu, hingga sekarang masih tetap eksis di bumi Tepe Asa Moroso, Tana To Bungku, Kabupaten  Morowali. Musik etnik Ndengu-ndengu tersebut hanya dapat dinikmati saat bulan suci ramadhan.

Nuryazillah menjelaskan, bahwa di jaman kerajaan Bungku, musik etnik Ndengu-ndengu digunakan untuk membangunkan orang melaksanakan sholat dan sahur di bulan ramadhan. Pada jam-jam tertentu musiknya akan dimainkan. Musik Ndengu-ndengu bukan di arak keliling,  melainkan dibangun sebuah pondok dari bahan bambu dengan ketinggian antara 12 meter hingga 15 meter.

“Di atas pondok itulah musik Ndengu-ndengu dimainkan. Kita berupaya untuk bisa bersaing. Bukan juaranya, akan tetapi harapan kami menjadi yang terbaik,” harap Nuryazillah.

Pimpinan Sanggar Seni Rampeasina, Nurfallah Ahmad, yang juga jebolan Sekolah Tinggi Ilmu Seni Bandung menuturkan, penampilan anak sanggarnya pada pekan budaya kali ini akan mengusung tema “Laut”. Hal itu dilakukan karena pekan budaya kali ini dirangkaikan dengan Sail Tomini 2015.

Nurfallah mengatakan, dalam kreasi dari tari dan musik etnik, akan diangkat cerita tentang kehidupan masyarakat di pesisir pantai, yang melakukan aktivitas di pantai untuk mencari “Meti” atau “Biak” saat air laut sedang surut. Kegiatan mencari “Meti” bagi masyarakat pesisir pantai, merupakan kegiatan yang sangat menyenangkan di sore hari. Selain mencari “Meti” sebagai hasil laut yang di makan, juga dapat berbagi kegembiraan bersama.

“Saya terdorong bagaimana mempromosikan tradisi lokal masyarakat Bungku di pesisir pantai, lewat musik dan tari kreasi. Dengan demikian, maka budaya dan tradisi Bungku dapat dikenal di kancah lokal, nasional, maupun internasional,” imbuh Fallah, sapaan akrabnya.

Dia meyakini, bahwa kesempatan saat ini adalah peluang untuk memberikan yang terbaik dalam mempromosikan budaya Bungku. Lagi pula, budaya Morowali belum merambah secara nasional. Olehnya, jika pemerintah kabupaten dan DPRD mendukung, mereka akan tampil di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta, guna lebih memperkenalkan seni budaya dan musik tradisional Bungku, Morowali.

“Kalau tidak sekarang kapan lagi, dan kalau bukan kita siapa lagi. Yang masih kurang saat ini adalah gedung sanggar. Kami berharap agar pemerintah daerah  dan DPRD dapat lebih memperhatikan keberadaan gedung sanggar. Sehingga, musik etnik dan budaya Morowali dapat dilestarikan,” tutup Fallah.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

%d bloggers like this: