Produksi Ikan Aman Untuk Kebutuhan Sail Tomini

PALU– Produksi ikan dari perairan Selat Makassar dan Teluk Tomini sedang meningkat pesat sehingga dapat memenuhi ikan segar untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama perhelatan akbar Sail Tomini yang diperkirakan dikunjungi 10.000-an orang.

“Ini lagi musim ikan, bukan hanya ikan pelagis besar dan kecil, tetapi juga ikan tuna untuk ekspor. Harga ikan kecil sekarang lagi turun,” kata Kepala Unit Pelakana Teknis (UPT) Pelabuhan Perikanan Dinas Kelautan dan Perikanan Sulteng Agus Sudaryanto di Palu, Jumat.

Menurut dia, para nelayan di Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) Donggala dan Ogotua di Selat Makassar maupun nelayan di Parigi Moutong (Teluk Tomini) mengaku sedang mengalami musim panen ikan cukup besar.

“Di PPI Donggala, misalnya, harga ikan pelagis kecil jenis layang saat ini hanya sekitar Rp500.000/basket, turun dari sebelumnya Rp800.000-an ribu/basket,” ujarnya.

Hal yang sama terjadi di Parigi, daerah yang akan menjadi tuan rumah Sail Tomini 2015, dimana nelayan mengaku tangkapan nelayan meningkat dan harga cenderung turun.

“Nelayan di Teluk Tomini dan Selat Makassar juga mengalami panen ikan tuna yang cukup besar. Satu nelayan bisa menangkap lima sampai tujuh ekor tuna setiap hari dengan ukuran berat 40 sampai 70 kilogram per ekor,” ujarnya.

Itu berarti, dengan harga jual di pasar lokal yang mencapai Rp30.000 per ekor, seorang nelayan penangkap tuna bisa menghasilkan Rp1,5 juta sampai Rp2 juta setiap hari.

Menurut Agus, musim kemarau yang merupakan dampak fenomena alam Elnino rupanya meningkatkan hasil tangkapan nelayan karena banyak ikan yang sebelumnya berada di dasar laut, muncul ke permukaan.

Logika ilmiahnya, jelas Agus, saat musim kemarau, phitoplancton yang merupakan makanan ikan pelagis kecil tumbuh sumbur karena meningkatnya suhu air laut sehingga populasi ikan kecil meningkat. Karena meningkatnya populasi ikan kecil, maka ikan-ikan besar yang menjadi presdator ikan kecil menjadi tinggi pula.

“Itu sebabnya, nelayan di Teluk Tomini mengaju dewasa ini sering menemukan gerombolan ikan tuna yang muncul di permukaan laut, sebuah pemandangan yang jarang sekali disaksikan selama beberapa tahun terakhir,” ujar Agus lagi.

Ketika ditanya apakah naiknya tangkapan nelayan merupakan dampak dari berbagai kebijakan Menteri Kelautan dan Perikanan seperti moratorium penangkapan ikan dengan alat tangkap pukat harimau serta perang terhadap kapal-kapal berbendera asing, Agus mengemukakan bahwa hal itu bisa saja terjadi.

Gubernur Sulawesi Tengah Longki Djanggola sebelumnya mengemukakan bahwa menghadapi Sail Tomini, kebutuhan akan daging dan ikan akan meningkat sangat tinggi karena daerah ini akan dikunjungi belasan ribu orang selama hampir seminggu lamanya.

Namun katanya, masyarakat tidak perlu khawatir akan kekurangan daging dan ikan, karena provinsi ini merupakan penghasil ikan dan ternak potong yang sudah mampu mensuplai kebutuhan berbagai daeah lain di Indonesia.

“Kalau ada sedikit kenaikan harga, tertama daging, itu hal yang wajar karena kita juga sedang menghadapi hari raya idul Adha,” ujarnya. ANT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

%d bloggers like this: