Harga Karet Merosot, Petani di Morut Malas Panen

MOROWALI- Anjloknya harga karet membuat duka para petani di Kabupaten Morowali Utara (Morut) yang memang mata pencahariannya di komoditi itu. Para petani di sejumlah wilayah khususnya seputar Beteleme Kecamatan Lembo pun malas memetik hasil panen karena biaya tidak sesuai dengan hasil panennya.

“Harga cuma Rp 4000 rupiah, bagaimana mau panen, kalau kebun kami luasnya ratusan hektar ya mungkin bisa seimbang dengan biaya transport. Tapi kebun kami tidak sampai 1 hektar, malah rugi kalau kami panen,” ujar Ardam warga Desa Wara’a kepada Sulteng Post, Kamis (10/9/2015).

Selama sebulan ini, harga setiap kilogram karet di Morut berkisar Rp 4000 hingga Rp 5000 per kilogramnya. Kondisi seperti ini membuat para petani karet malas untuk pergi ke kebun mereka. “Hari ini seharusnya saya memanen, karena harga karet anjlok, saya jadi malas untuk pergi ke kebun lagi,” katanya.

Menurutnya, empat bulan lalu harga karet masih berkisar seharga Rp 20.000 per kilogramnya. Namun, saat ini harga tersebut mengalami penurunan yang cukup drastis mencapai Rp 4000 per kilonya. “Sangat gila, dengan harga karet yang turun drastis, bagaimana lagi kehidupan masyarakat,” keluhnya.

Akibat merosotnya harga karet tersebut, tentunya membuat para petani di Morut menderita. Sebab, karet komoditi yang merupakan sumber penghasilan petani saat ini sudah tidak lagi memiliki nilai jual. “Jika harga karet seperti ini terus, mau makan apa anak dan istri kami, apalagi harga bahan sembako sekarang cukup tinggi, ” sesal dia.

Baik Ardam maupun petani di Morut lainnya berharap agar pemerintah dapat mencarikan jalan keluar untuk semua ini, baik pemerintah kabupaten, provinsi maupun pemerintah pusat, sehingga penderitaan rakyat kecil bisa berakhir(SULTENGPOS.COM)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

%d bloggers like this: