Empat Bulan Buol Dilanda Kemarau

Buol, – Sekira 1000 Hektar lahan jagung milik petani di empat desa di Kecamatan Paleleh, Kabupaten Buol, dapat dipastikan mengalami gagal panen akibat musim kemarau yang melanda. Kondisi ini mengakibatkan kerugian besar bagi petani di wilayah itu. Beberapa desa yang mengalami dampak kekeringan yakni, Desa Molangato, Desa Lilito, Desa Pionoto dan Desa Umu.

Plt Kepala Desa Umu, Rustam Panggato di hubungi Metro Sulawesi via telepon mengatakan, panen jagung kali ini menjadi waktu yang tak baik bagi petani karena pendapatan mereka mengalami penurunan.

“Kalau luas lahan jagung yang ada di sini berkisar 1000 hektar lebih, tapi sebagian besar tanaman jagung petani sudah kering sehingga gagal panen sedangkan yang bisa di panen hasil buahnya juga kurang memuaskan,” ungkap Rustam, Sabtu (29/8/2015) di Buol.

Rustam menjelaskan, karena kondisi tanaman jagung yang telah mengalami rusak akibat kekeringan petani setempat tak dapat berbuat banyak untuk menyelamat jagung, petani terpaksa membiarkan begitu saja tanaman mereka.

“Yang pasti melihat kondisi tanaman jagung sekarang ini tidak juga 100 persen gagal panen karena masih ada yang bisa nikmati hasil kebunnya meski buah jagung tidak masksimal hasilnya yang alami puso sekitar 99 persen kira-kira,” terang Rustam.

Lanjut Rustam, untuk mengisi gagal panen selama musim kemarau yang telah berlangsung tiga bulan sebagian para petani ada yang berali ke tanaman lain seperti cabe.

“Petani hanya bisa berharap kondisi cuaca panas ini agar segerah berakhir, sehingga mereka dapat kembali menggarap lahan untuk di tanami jagung secepatnya,” sambung Rustam.

Kata Rustam lagi, sebenarnya petugas teknis dari Dinas Pertanian sudah turun lapangan. Namun tidak dapat berbuat banyak. Disatu sisi, warga berharap pemerinta dapat memberikan solusi kepada petani utamanya di saat musim panas apakah beralih ke tanaman yang bisa memberikan nilai ekonomi lebih.

“Persoalannya tanaman apa yang cocok di tanam pada musim panas seperti sekarang,” imbuhnya.

Dihubungi secara terpisah via telepon, Kepala Desa Molangato, membenarkan kondisi tersebut. Dia menambahkan, bahkan petani kacang tanah yang ada di desanya juga mengalami penurunan produksi akibat hasil biji tanaman kacang mereka tidak maksimal.

Sementara itu, informasi dari sumber menyebutkan, selain petani mengalami gagal panen akibat kemarau di daerah itu juga berdampak terhadap warga Desa Oyak kecamatan Paleleh yang sulit memperoleh air bersih untuk kebutuhan air minum.

Lanjut sumber, untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga setempat kini harus menempuh jarak satu kilometer ke lokasi sumber mata air.

“Dampak kekeringan kesulitan air bersih, Desa Oyak sekarang tinggal ambil di sungai malam hari, jarak lokasi mata air satu kilometer karena sumber air yang ada sudah tidak dapat memenuhi lagi kebutuhan masyarakat setempat,” tandasnya.

Pemda Diminta Turun Tangan

Hampir 99 persen petani jagung di Kecamatan Paleleh dan Bunobogu, Kabupaten Buol alami puso. Kemarau panjang juga berdampak krisis air bersih. Di Desa Oyak, warga sekarang tinggal ambil di sungai pada malam hari, setelah PDAM setempat sudah tidak bisa mendistribusikan air bersih.

Begitu juga lahan jagung di Desa Molangato, Umum, Lilito dan Pionoto yang luasnya sekitar 1000 ha. Dimana, 99 persen tanaman jagung sudah mati. Dengan kondisi cuaca ektrim yang sudah berlangsung 4 bulan. Petani hanya bisa berharap kondisi cuaca panas agar segerah berakhir sehingga mereka dapat kembali menggarap lahan untuk di tanami kembali.

Untuk mengisi kegagalan petani, sebagian beralih menanam cabai. Namun tanaman itu juga tidak bisa sepenuhnya diharapkan, karena jika yang ditanam 1000 pohon, syukur-sykur bisa hidup 300-400 pohon.

Warga berharap, Pemda setempat dapat memberikan solusi kepada petani, utamanya disaat musim panas, apakah beralih ke tanaman yang bisa memberikan nilai ekonomi lebih. Persoalannya tanaman apa yang cocok di tanam pada musim panas.(ms)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

%d bloggers like this: