Pelajar Diskusi Bahaya Radikalisme di Palu

Palu– Puluhan pelajar tingkat menengah se Kota Palu, Sulawesi Tengah, Kamis (29/9) diskusi mengenai bahaya radikalisme, yang hingga kini masih terus diajarkan sekelompok orang di sejumlah wilayah.

Diskusi yang diawali dengan menonton film berjudul Mata Tertutup karya Garin Nugoroho itu difasilitasi oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Sulawesi Tengah.

Diskusi itu menghadirkan sejumlah narasumber, antara lain Swastika Nohara, penulis naskah film, Nisbah Mariadjang, sosiolog asal Universitas Tadulako, Tahmidy Lasahido, pengamat terorisme dan Mhd Nur Sangadji, akademisi dari Universitas Tadulako.

Film Mata Tertutup dengan durasi lebih satu jam itu, menceritakan tentang rekrutmen anggota Negara Islam Indonesia (NII), yang menjadikan pelajar dan mahasiswa sebagai sasaran rekrutmen itu.

Muzakir Tawil, Ketua FKPT mengatakan, para pemuda dan pelajar, menjadi kelompok yang paling mudah dimasuki paham radikal sehingga perlu diberikan penyadaran sejak dini.

“Anak-anak ini masih labil, paling gampang terpengaruh,” kata Muzakir Tawil.

Swastika Nohara, penulis film Beta Maluku dan sejumlah film lainnya menjelaskan, penanaman nilai-nilai perdamaian dan harmonisasi, akan lebih mudah diterima jika melalui audio visual.

“Lebih cepat membekas sehingga mudah dipraktikkan,” ujarnya.

Menurut Nisbah Mariadjang, lemahnya pemahaman keagamaan tidaklah menjadi satu-satunya alasan seseorang terlibat dalam kelompok radikal, tetapi masalah kesenjangan ekonomi dan faktor pendidikan di keluarga dan sekolah juga menjadi faktor penting dari keterlibatan itu.

Dia mengatakan, pesantren seharusnya tidak hanya sekadar berperan mengajarkan pemahaman keagamaan, tetapi juga harus menjadi solusi dari masalah ekonomi santri.

“Ketidakmampuan ekonomi, membuat santri dikeluarkan dari pesantren, akhirnya memilih jalan yang salah,” katanya.

Feby, salah seorang siswi SMA Negeri 2 Palu mengatakan, para pelajar harus banyak dilibatkan dalan diskusi dan kegiatan antiradikalisme, agar mereka dapat menjadi penganjur damai, minimal di lingkungan sekolahnya sendiri.(kabarselebes)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

%d bloggers like this: