Bamag Kota Palu sukses gelar ‘Palu Aman Dalam Keberagaman’

Palu  – Badan Musyawarah Antar Gereja (Bamag) Kota Palu membuat gebrakan pertamanya setelah bentuk dan dilantik oleh Wali Kota Palu beberapa bulan lalu, yakni menggelar acara bertajuk Palu aman dalam keberagaman.

Acara yang diikuti seratusan pendeta dan warga gereja bersama tokoh agama dari lima agama, jajaran pemerintah Kota Palu ini berlangsung cukup meriah di sekitar Anjungan Nusantara Pantai Teluk Palu, Jumat.

Ketua Bamag Kota Palu DR Loddy Surentu, MM  mengemukakan kegiatan Palu aman dalam keberagaman ini merupakan wujud dukungan warga gereja untuk suksesnya Festival Pesona Palu Nomoni (FPPN). FPPN sendiri merupakan salah satu kegiatan akbar di bidang wisata dan budaya yang digelar pemerintah kota setempat, yang akan berlangsung 23-26 September 2016 di sepanjang pesisir Pantai Teluk Palu.

Pada acara itu, Ketua Bamag menyerahkan pataka Palu aman dalam keberagaman kepada Wali Kota Palu yang diwakili Asisten bidang Ekonomi dan Pembangunan Presly Tampubolon yang merupakan wujud dukungan dan kepercayaan jajaran gereja bersama tokoh-tokoh dan pemeluk agama lain kepada pemerintah Kota Palu untuk menjaga dan meningkatan keamanan dan keharmonisan kehidupan masyarakat kota yang sudah terjalin selama ini.

Dalam acara ini, tampil lima orang tokoh agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu dan Budha untuk memanjatkan doa bagi bangsa dan negara, khususnya di Kota Palu, untuk kejayaan bangsa dan daerah ini di bidang ekonomi, kesejahteraan rakyat, politik, keamanan, dan pembangunan spiritual atau keagamaan.

Kegiatan ini diakhiri dengan defile peserta mengelilingi Anjungan Nusantara dan dimeriahkan oleh puluhan penari dari Lembaga Anak Bangsa Cerdas (LABC) dan paduan suara Universitas Tadulako.

Wali Kota Palu dalam sambutan tertulis yang dibacakan Staf Ahli bidang Ekonomi dan Pembangunan Presly Tampubolon menyambut gembira kegiatan Bamag menggelar acara `Palu aman dalam keberagaman` yang diharapkan menjadi momentum introspeksi diri semua pihak sejauh mana sudah mengimplementasikan ajaran agama masing-masing dalam kehidupan sehari-hari

“Kota Palu terus berupaya untuk mencari terobosan guna mempercepat peningkatan kesejahteraan masyarakat dan jangan sampai ada masyarakat yang menyakiti sesamanya dengan alasan agama,” ujarnya.

Wali Kota juga mengajak seluruh masyarakat untuk menyukseskan dan memeriahkan Festival Pesona Palu Nomoni untuk menggaungkan (nomoni) pesona Kota Palu dan keharmonisan masyarakatnya ke seluruh dunia guna menarik kunjungan wisatawan dan investor untuk mempercepat tercapainya kesejahteraan masyarakat.

Ketua Umum Badan Musyawarah Antargereja (Bamag) di Indonesia Agus Susanto meminta jajaran gereja di Kota Palu untuk lebih intensif dan proaktif melakukan kegiatan positif untuk menjaga moral bangsa agar sesuai dengan akar agama.

“Karena Kota Palu sedang berusaha untuk lebih terbuka dengan dunia luar, maka yang terpenting saat ini adalah jaga moral bangsa yang berangkat dari ajaran agama kita masing-masing,” katanya.

Menurut Agus Susanto, setiap pemimpin agama harus menyadari betul bahwa moral bangsa bukan berasal dari hak azasi manusia tetapi dari agama.

“Jadi, karena masyarakat Kota Palu kini semakin membuka diri kepada dunia luar, maka mari kita bersama-sama dengan seluruh penyelenggara negara untuk menjaga moral anak bangsa agar jangan tercabut dari akar agama masing-masing,” ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa di beberapa negara di dunia saat ini, semakin banyak kelompok masyarakat yng ridak suka akan agama apapun. Ini harus diwaspadai pengaruh mereka, karena mau tidak mau, arus informasi ini akan masuk Kota Palu karena kota ini semakin terbuka kepada dunia luar, ujarnya.

Agus Susanto sangat mengapresiasi visi dan misi Pemkot Palu periode 2016-2021 di bawah pimpinan Wali Kota Hidayat dan Wakil Wali Kota Sigit Purnomo Said alias Pasha Ungu yang ingin mewujudkan Palu Kota Jasa, Berbudaya dan Beradat dilandasi Iman dan Taqwa.

Sedangkan Kepala Kantor Departemen Agama Kota Palu Dr Kifflin Pajala, MPdI mengatakan bahwa kehidupan umat beragama di Kota Palu selama ini sangat harmonis dan situasinya sangat aman dan tenteram, meski diakui bahwa di luar negeri ada kesan bahwa situasi Kota Palu mirip dengan Poso yang pernah dilanda konflik horizontal antarpemeluk agama.

“Tongkat dan referensi pembangun di kota ini adalah agama. Karena itu, masyarakat di sini hidup tenteram dan harmonis karena kuat dalam prinsip-prinsip beragama sehingga tidak terkontaminasi dengan apa yang pernah terjadi di Poso,” ujarnya.

Acara Palu aman dalam keberagaman ini dilanjutkan dengan seminar berthema Peran Gereja dalam era Post -moderen denagn pembicara utama Ketua Bamag Indonesia Ir Agus Susanto, MSc berlangsung di Hotel Roaroa Maesa, Palu.(ant)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

%d bloggers like this: