Gubernur Longki Minta Pengeboran Migas Pertamina-Medco Tiaka Dihentikan

PALU – Pengeboran Minyak dan Gas (Migas) di blok Tiaka Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah (Sulteng) oleh JOB Pertamina – Medco E&P Tomori Sulawesi gagal dalam perencanaan. Hal itu dikemukakan Gubernur Longki Djanggola saat audience dengan pihak JOB Medco dan SKK Migas di ruang kerjanya, Rabu (14/9/2016).

Menurut Longki, pengoperasian JOB Medco di wilayah itu dianggap telah merugikan daerah dan masyarakat di Sulteng khsususnya masyarakat di Kabupaten Morut.

“Masyarakat bertanya, itu Tomori apa itu. Ada gas blar, tapi kok tidak ada apa apa, masyarakat tidak tahu, apalagi daerah tidak dapat apa-apa sama sekali,” ujarnya.

Longki yang didampingi Asisten Perekonomian dan Pembangunan Bunga Elim Somba, Kadis ESDM Bambang Sunaryo dan Kadis Pendapatan Abdul Wahab Harmain mengungkapkan, sengaja beberapa waktu silam ia berkujung ke lokasi tempat pengeboran perusahaan itu untuk memastikan apakah telah beroperasi sesuai perencanaan atau tidak sama sekali. Tetapi setibanya di lokasi, ia memutuskan sebaiknya pengoprasian perusahaan dan eksplorasi Migas di wilayah itu segera ditutup. Pasalnya, tidak memberikan kontribusi dan keuntungan bagi daerah.

“Makanya pada saat saya datang ke Tiaka, saya bilang, kalau begini modelnya, mendingan ditutup aja sekalian dari pada tidak menguntungkan, katanya negative blow out,” jelas Longki.

Dengan kondisi tersebut, ucap Longki, daerah terkesan dirugikan sehingga eksplorasi di blok Tiaka harus dihentikan dan tidak perlu lagi diteruskan lagi.

Menurutnya, sebelum melakukan eksplorasi dan eksploitasi, mestinya sudah ada perencanaan yang matang, perusahaan dapat merencanakan dan sudah bisa menghitung berapa kapasitas produksi di Tiaka.

Longki mengaku, meskipun secara tekhnis ia belum mengerti terkait hitungan dan mekanisme pengolahan Migas, tetapi paling tidak pihak perusahaan yang akan melakukan eksplorasi dan eksploitasi sudah mengetahui dan diperkirakan berapa potensi kapasitas eksplorasi dan eksploitasi deposit dari Migas di Tiaka.

Ia juga menanyakan mengenai gas yang dijatahkan kepada pihak Pembangkit Listrik Negara (PLN) melalui Domestic Market Obligation (DMO) 25 juta kaki kubik, dimana hingga saat ini pihak JOB Senoro belum memberikan teguran kepada PLN. Dia menilai hal ini terkesan ada pembiaran terhadap PLN. Jika memang tidak ada tindak lanjut dari PLN katanya, sebaiknya jatah tersebut diberikan kesempatan kepada pihak swasta atau perusahaan daerah yang mengeksploitasi itu.

Gubernur Longki menganggap itu aneh, karena JOB Senoro dan SKK Migas telah membuat DMO dengan PLN tetapi tidak melibatkan Pemerintah Daerah. Sehingga kejadiannya terkesan mengabaikan Pemda. Padahala ujar Longki, perusahaan telah berproduksi dan melakukan penjualan ke Korea dan Jepang, kemudian hal PLN di kesampingkan.

“Sudah enak ekspor, PLN malah dibiarin. Sepertinya tidak mau tahu, PLN mau buat atau tidak. Terus kami seperti apa pak,” sentil Longki di hadapan perwakilan SKK Migas wilayah Kalimantan – Sulawesi, Danar dan Manager Field JOB Susanto.

Longki menyoroti JOB Senoro sebagai pihak yang melakukan DMO, melakukan koordinasi dengan pihak Pemda Sulteng. Ia mengatakan, JOB Senoro sepertinya mengabaikan Pemda sebagai pemilik wilayah sehingga terlalu mudah menyampaikan bahwa Donggi Senoro sudah banyak memproduksi gas dan telah mengekspornya. Sementara Pemda Sulteng utamanya daerah penghasil tidak medapat apa-apa dari hasil buminya.

Longki menegaskan, dari hasil ekspor gas Senoro, yang menjadi hak Pemda Sulteng belum didapatkan. Apalagi dana bagi hasil, hingga saat ini belum mencapai target, berapa sebenarnya yang menjadi hak Pemda, baik provinsi maupun kabupaten penghasil.

Infromasi yang dihimpun dari Dinas Pendapat Daerah (Dispemda) hingga Tw II, penerimaan pendapatan daerah dari sektor gas tahun ini masih sebesar 16 miliar dari target 39 miliar. Sementara untuk minyak, pada Tw II masih sebatas 1,1 miliar dari target 4,1 miliar.

Meskipun demikian Longki mengapresiasi pihak SKK Migas Kalimantan Sulawesi dan JOB Pertamina Medco E&B Tomori Sulawesi menyampaikan situasi terkini tambang Migas Tiaka dan perkembangan ekspor tambang Migas Senoro, paling tidak Pemda dan masyarakat dapat mengetahuinya. Longki kembali menegaskan untuk JOB Tomori agar kepastian tentang sampai kapan penundaan operasional tambang Migas Tiaka dapat segera disampaikan kepada Pemda Sulteng sehingga masyarakat yang selalu bertanya-tanya medapat penjelasan yang transparan dari pihak JOB Tiaka(kabarselebes)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

%d bloggers like this: