PT Donggi Senoro Diadukan ke Polisi

Dituduh Serobot Lahan 43.569 Meter Persegi

Palu, Metrosulawesi.com – PT Donggi Senoro LNG diadukan ke polisi oleh warga yang mengaku sebagai pemilik lahan seluas 43.569 meter persegi di Hanbola Tua, Desa Uso Kecamatan Batui, Kabupaten Banggai. Kasus tersebut tengah ditangani Polda Sulteng.

Lahan yang di atasnya telah berdiri kilang gas itu, diklaim adalah milik suami istri- Jamin Mokodompit dan Hadija.

“Awalnya tanah yang dikuasai oleh PT. DS LNG tersebut merupakan kebun milik Jamin Mokodompit yang dijaga oleh Bara La Api dan istrinya Hijra. Namun entah bagaimana, terbit SKPT Tahun 2007, padahal tanah tersebut telah memiliki Sertifikat Hak Milik Nomor 3/1995 atas nama Jamin Mokodompit dan Sertifikat Hak Milik Nomor 4/1995 atas nama Hadija dan beberapa akta jual beli lainnya. Kemudian, terjadi jual beli atas dasar SKPT Nomor 592.2/27/XI/2007 tersebut antara Bara La Api dengan pihak PT. DS LNG,” kata Suyono Ramili, kuasa dari Jamin Mokodompit kepada Metrosulawesi, baru-baru ini.

Suyono mengatakan transaksi pembelian tersebut terjadi di Bank BNI Banggai.

“Jual beli antara pihak PT. DS LNG dan Bara La Api atas dasar SKPT tersebut terjadi di Kantor BNI Banggai dengan harga jual Rp392.121.000. Kami konfirmasi ke Bara La Api terkait itu, dia katakan dirinya kurang paham, karena pada waktu itu banyak sekali yang dia tandatangani,” katanya.

“Bara La Api mengatakan dirinya tidak pernah membuat SKPT, karena yang membuat SKPT adalah Kepala Desa. Jadi seharusnya Kepala Desa patut diduga melakukan pemalsuan surat,” katanya.

Suyono mengatakan pihaknya telah melaporkan kasus tersebut kepada Polres Banggai sejak 14 September 2015.

“Namun hingga sekarang kasus ini tidak ada perkembangan apa-apa. Bahkan sampai sekarang tidak ada yang ditetapkan sebagai tersangka. Kami telah menanyakan ini kepada pihak Polres, cuma sampai sekarang tidak ada kejelasan,” katanya.

“Bara La Api pun sampai sekarang belum ditetapkan sebagai tersangka. Padahal jelas perbuatannya melawan hukum. Tapi memang kami tidak bisa memaksakan pihak Polres untuk menetapkan tersangka,” tambahnya.

Padahal kata Suyono, telah ada pengakuan tertulis Bara La Api dan istrinya bahwa mereka (Bara La Api dan Istrinya) tidak memiliki hak atas tanah Jamin Mokodompit.

“Sudah ada surat pernyataan Bara La Api tanggal 12 Agustus 2016 bahwa dia tidak memiliki hak atas tanah perkebunan yang telah dijual ke PT. DS LNG. Dan dalam surat tersebut Bara La Api juga mengaku hanya penjaga dan pemelihara kebun milik Jamin Mokodompit. Bara La Api juga mengaku salah, keliru dan tertipu karena yang dia jual bukan tanah melainkan sebagian tanaman saja,” katanya.

Suyono mengatakan pihaknya telah beberapa kali mendesak Kapolres Banggai untuk menindaklanjuti kasus tersebut.

“Kuasa hukum kami sudah menghadap Kapolres Banggai. Jawaban Kapolres pada waktu itu, nanti disurati dulu pihak PT. DS LNG. Kalau menunggu jawaban PT. DS LNG, hasil di tanah kami sudah habis,” katanya.

Suyono mengatakan pihaknya telah beberapa kali melakukan komunikasi dengan pihak PT. DS LNG terkait masalah ini.

“Pada 2008 selesai penggusuran, saya mendatangi pihak PT. DS LNG yang diwakili bapak Suhardi. Kata Bapak Suhardi, setelah saya tunjukkan bukti Sertifikat Hak Milik, tidak usah ribut-ribut, saya (Bapak Suhardi) atas PT. DS LNG akan menyelesaikan secepat-cepatnya setuntas-tuntasnya dengan jalan musyawarah, dan segera disampaikan kepada pimpinan pusat,” kata Suyono.

Suyono mengatakan setelah pertemuan tersebut, dirinya yang mewakili pihak keluarga Jamin Mokodompit menunggu realisasi janji tersebut.

“Tahunan saya menunggu realisasi dari PT. DS LNG. Kemudian saya tanyakan kepada Kepala Desa soal janji itu, kepala desa juga tidak tahu. Pas peresmian PT. DS LNG pada 2014, kami tambah gelisah, karena belum ada realisasi janji atau ganti rugi dari pihak PT. DS LNG. Dan waktu itu, saya putuskan ke Jakarta menemui langsung pimpinan PT. DS LNG pusat,” jelasnya.

“Tujuannya saya bertemu Presiden Direktur PT. DS LNG. Setibanya di Kantor Pusat PT. DS LNG di Central Senayan 2 Lantai 13, saya bertemu lagi dengan Bapak Suhardi. Lucunya, Bapak Suhardi menanyakan kepentingan saya datang. Saya langsung bilang, apakah bapak sudah lupa saya, karena saya juga yang bertemu Bapak di Banggai. Bapak Suhardi pada waktu itu menjawab bahwa dia (Suhardi) sebagai pihak perusahaan merasa sudah memiliki tanah tersebut, dan kalau Bapak Suyono merasa memiliki tanah tersebut, mari bawa ke ranah hukum. Saya langsung tegaskan, pertemuan tersebut kami minta ada notulennya, dan saya langsung laporkan,” katanya.

Suyono mengatakan pihaknya saat ini hanya menginginkan tanah yang sekarang dikuasai PT. DS LNG milik Jamin Mokodompit dan istrinya Hadija yang telah berdiri kilang gas dikembalikan.

“Kembalikan dulu hak kami, yang telah lama dikuasai oleh PT. DS LNG, itu saja. Kalaupun ada niat baik PT. DS LNG, kita akan selesaikan kemudian,” katanya.

Kapolda Sulteng, Brigjen Pol, Rudy Sufahriadi yang dikonformasi mengatakan sudah melakukan gelar perkara terhadap kasus itu.

“Sudah digelar perkara terkait kasus itu bersama Diskrimum, saat ini masih dalam penyidikan,” kata Kapolda melalui pesan pendeknya.

Diketahui, Kamis pekan lalu, beberapa pihak telah bertemu di Polda Sulteng membahas kasus tersebut. Sayangnya, Polda belum memberikan keterangan resmi terkait dengan pertemuan itu.(metrosulawesi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

%d bloggers like this: