Sulteng Siaga Penyakit DBD

Palu, – Seorang ibu cukup gelisah mengendong anaknya yang masih berusia 1,8 bulan dengan tangan diinfus di rumah sakit pemerintah di Palu.

“Sabar Nak, jangan menagis,” kata Ny Yulistianingsi yang berusaha membujuk anaknya keduanya bernama Klifli, penderita penyakit demam berdarah dengue (DBD) yang sudah hampir sepekan dirawat di Rumah Sakit Umum (RSU) Anutapura Palu.

Klifli merupakan satu dari puluhan anak yang terserang DBD dirawat di RSU milik Pemerintah Kota (Pemkot) Palu tersebut.

Ny Yulistiangsi mengemukakan awalnya, Klifli hanya demam biasa. Tetapi beberapa hari kemudian suhu badan panas tinggi sehingga ia memeriksakan ke Puskesmas di Jalan Igusti Ngurah Rai, Palu.

Dokter yang memeriksa memberikan rujukan untuk membawa ke rumah sakit.

Setelah diperiksa, ternyata anaknya itu positif terserang DBD dan mendapat penanganan medis.

“Terus terang saat mengetahui anak saya positif terserang virus aedes aegipty saya gelisah dan panik,” kata Ny Yulistianingsi.

Namun setelah menjalani perawatan di rumah sakit, iapun merasa lega meski hingga kini anaknya masih belum diperbolehkan untuk pulang ke rumah.

“Dokter katakan nanti kalau sudah sembuh betul baru bisa pulang,” kata dia.

Pekan lalu, Sondang, seorang mahasiswi salah satu perguruan tinggi negeri di Palu selama beberapa hari terbaring di Rumah Sakit Bala Keselamatan (BK), salah satu rumah sakit swasta di kota itu.

Pemudi tersebut hampir dua minggu menjalani perawatan karena menderita penyakit DBD.

Kota Palu memang selama ini termasuk rawan penyakit DBD. Setiap memasuki peralihan musim dari kemarau ke musim hujan, serangan DBD selalu terjadi.

Setiap memasuki musim hujan, banyak warga Palu yang terserang DBD seperti yang terjadi selama Januari hingga minggu pertama Frebruari 2016, hampir semua rumah sakit di Palu merawat banyak penderita penyakit DBD.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Palu, Emma Sukmawati membenarkan penyakit DBD kembali banyak menyerang warga dan kebanyakan adalah anak-anak.

Tetapi DBD tidak hanya menyerang anak-anak, tetapi juga orang dewasa.

Ia mengatakan sekarang ini cukup banyak orang dewasa yang juga diserang DBD.

Dia mengaku rata-rata rumah sakit di Palu merawat pasien DBD.

Emma menjamin jumlah ruangan untuk menampun pasien DBD di Kota Palu masih cukup memadai, meski jumlah penderita meningkat.

Di Palu, kata dia, ada sejumlah rumah sakit pemerintah dan swasta ditambah dua rumah sakit milik TNI dan Polri.

Soal ketersediaan ruangan dan tim medis serta obat-obatan, Emma menjamin cukup.

Berdasarkan jumlah kasus DBD yang terdata saat ini, terbanyak penderitnya dari Kecamatan Palu Selatan, Palu Barat dan Palu Timur.

Ketiga kecamatan itu selama ini memang terkenal sebagai wilayah penyakit DBD karena lokasi permukiman warga masih banyak yang kumuh serta berada di pinggiran daerah aliran sungai (DAS) Palu.

Harus Siaga

Emma juga meminta masyarakat untuk tetap siaga dan waspada. “Kalau ada yang keluarga yang sakit agar cepat dibawa ke dokter terdekat supaya bisa diperiksa penyakitnya,” kata dia.

Apalagi, kata Emma , kalau suhu badannya panas dan tiga hari berturut-turut belum juga turun dan disertai rasa mules dan sakit kepala.

“Itu gejala terserang DBD sehingga perlu segera mendapat perawatan dokter,” katanya.

Emma meminta masyarakat tidak terlambat membawa keluarga yang sakit ke dokter atau langsung rumah sakit agar secepatnya bisa didiagnosa penyakitnya oleh dokter.

Menurut dia, kebanyakan penderita DBD meninggal dunia, karena korban terlambat dibawa ke rumah sakit.

Emma mengatakan mengantisipasi wabah DBD di Palu, Pemkot melalui dinas terkait terus melakukan langkah-langkah pencegahan dengan sosialisasi, pengasapan/penyemprotan serta pemberian bubuk abate secara gratis kepada masyarakat.

Namun upaya pencegahan paling maksimal, yakni jika dimulai dari tingkat rumah tangga. Jika rumah tangga telah terbiasa membangun kesadaran untuk mewujudkan kebersihan tempat tinggal dan lingkungannya, maka akan terhindar dari ancaman nyamuk Aedes aegypti yang menyebarkan penyakit DBD.

Gerakan dari keluarga yang sehat dan bersih sangat mempan untuk mewujudkan pencegahan perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti.

Dengan adanya kesadaran dari rumah tangga untuk merawat dan memelihara kesehatan keluarga, dengan kebersihan tempat tinggal dan lingkungan, akan memberikan dampak terhadap pengurangan resiko dan jumlah penderita DBD.

Pemerintah saat ini berupaya untuk merangsang masyarakat agar terbiasa hidup bersih yang dibangun dari rumah tangga.

Ia mengakui bahwa setiap tahun penderita DBD di kota terus meningkat, dimana tahun 2015 penderita DBD berjumlah 653, begitupula di tahun 2014 yang juga berjumlah ratusan.

Pada Januari 2016 pasien DBD berjumlah 16 orang, hal itu menandakan bahwa perilaku hidup sehat di masyarakat belum terlaksana secara maksimal.

1.573 kasus

Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinkes Sulteng, dr Muh Saleh Amin mengatakan sampai November 2015, pihaknya telah mendata sebanyak 1.573 kasus DBD dengan 11 penderita meninggal dunia.

Jumlah itu meliputi Kota Palu sebanyak 650 kasus dan meninggal dua orang, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo) 16 kasus dengan dua orang meninggal.

Menyusul Kabupaten Poso sebanyak 179 kasus dengan dua orang meninggal, Kabupaten Morowali 81 kasus, Morowali Utara 26 kasus, Banggai 21 kasus.

Berikutnya, Kabupaten Banggai Kepulauan dua kasus, Tolitoli 220 kasus dengan dua orang meninggal, Buol 231 kasus dengan satu orang meninggal dan Sigi 103 kasus dengan satu orang meninggal.

Khusus Kabupaten Banggai Laut hingga kini tidak ada kasus DBD.

“Untuk Kabupaten Donggala laporan masih sampai November dengan 18 kasus dan Tojo Una-una dengan 26 kasus, tidak ada yang meninggal dunia,” kata Amin.

Ia juga berharap masyarakat untuk ikut aktif mencegah penyakit DBD dengan meningkatkan pola hidup sehat, menjaga lingkungan agar tetap bersih.

Upayakan tidak ada air tergenang di lingkungan warga sehingga tidak menjadi sumber atau sarang nyamuk. Kalau ada saluran pembuangan limbah yang tidak lancar agar dibersihkan.

Juga tempat lain yang dapat menjadi sarang nyamuk untuk bertelur dan berkembangbiak seperti kaleng bekas atau apapun agar dikubur atau ditanam.

Mari mulai dari sekarang ini, kita budayakan pola hidup bersih dan sehat, karena itu salah satu solusi yang dapat mencegah penyakit DBD.ant

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

%d bloggers like this: