Padat Karya, Rekruitmen dan Waktu Kerja Perlu di Revisi

Palu – Pengamat kebijakan publik Universitas Tadulako, Slamet Riadi Cante mengungkapkan ada dua hal yang perlu di revisi dalam program padat karya yang dilaksanakan Pemerintah Kota (Pemkot) Palu.

“Dua hal yang perlu dikritisi dalam program padat karya yang dilaksanakan Pemkot Palu yaitu sistem rekruitmen dari kelurahan dan juga waktu kerja. Jika dua hal ini Pemkot Palu perhatikan maka visi misi program tersebut, dapat membantu perekonomian masyarakat miskin dan juga menuntaskan masalah kebersihan bisa terlaksana,” kata melalui ponselnya, Sabtu (9/1/2016).

Menurutnya, hasil program padat karya yang salah satunya untuk menciptakan kebersihan di wilayah Kota belum terlihat.

“Masih banyak jalana ibu kota terlihat kotor. Karena kebanyakan sistem yang diterapkan dalam padat karya itu sendiri dilakukan secara bergerombol dan berpindah-pindah. Sehingga terkesan tidak konsisten. Padahal anggaran yang dikucurkan oleh pemerintah sangat banyak, namun sampai saat ini Kota Palu belum mendapatkan Adipura,” katanya.

“Betapa ruginya, jika dana tersebut tidak berbanding lurus dengan kebersihan kota Palu. Seharusnya kota Palu bisa mendapatkan Adipura,” tegasnya.

Slamet mengatakan untuk memaksimalkan program tersebut diperlukan ketegasan pihak koordinator.

“Supaya ada peningkatan kerja dan hasil yang di terima kota Palu. Seperti frekuensi kerja dari padat karya perlu ditambah,” katanya.

Terkait sistem rekruitmen tenaga padat karya, Slamet mengatakan Pemkot Palu harus memperhatikan dengan baik pada saat rekruitmen awal. Karena menurutnya jangan sampai tenaga padat karya diambil dari masyarakat yang mampu dalam ekonomi.

“Rekruitmen awal tenaga padat karya sangat perlu diperhatikan. Karena beberapa yang menjadi anggota padat karya, justru memiliki motor dan smarphone. Ini membuktikan, tenaga padat karya itu sudah dalam taraf ekonomi mampu. Memiliki barang seperti itu, menandakan kategori bukan ekonimi lemah atau miskin,” tegasnya.

Dengan begitu, kata Slamet, program padat karya bisa mencapai sasarannya.

“Program padat karya sasarannya bagi masyarakat ekonomi lemah, jadi rekruitmen awalnya harus betul-betul diperhatikan. Program padat karya bukan dimanfaatkan bagi mereka yang mempunyai ekonomi cukup,” katanya.MS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

%d bloggers like this: