Warga TPA Kawatuna Keluhkan Air Bersih dan Listrik

Palu – Warga sekitar Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kawatuna mengeluhkan susahnya mendapatkan air bersih. Salah seorang warga menuturkan bahwa air bersih hanya diperoleh dari sebuah suangai yang jaraknya dua kilometer.

”Air yang kami gunakan sehari-hari diambil dari sungai. Saya setiap harus berjalan mengambil air di sungai yang ada di bawah sebanyak tiga kali untuk keperluan di dapur,jaraknya sekitar dua kilometer,” jelas Ronald yang bekerja sehari-hari sebagai pemulung, Sabtu (2/1/2015).

Ronald mengatakan bahwa kekurangan air bersih tersebut telah dirasakan pihaknya sejak 2013.

“Keluhan ini sejak 2013 kami sudah sering sampaikan kepada Pemerintah Kota Palu, namun sampai sekarang belum ada realisasi. Kami berharap tahun ini air bersih dapat tersedia di pemukiman kami,” katanya.

Menurutnya, Pemkot Palu harus segera menindaklanjuti keluhan warga sekitar TPA Kawatuna, karena tidak hanya persoalan air bersih, listrik pun belum bisa dinikmati pihaknya secara maksimal.

“Kami juga dijanjikan perumahan untuk pemulung tahap kedua,namun kami juga berharap kepada pemerintah agar memperhatikan listrik disini. Kami menggunakan listrik tenaga bio gas, itu juga sering mati. Lebih banyak kami tidak menikmati listrik disini,” katanya.

Selain itu, kata Ronald, kebutuhan mendesak yang saat ini dibutuhkan pihaknya adalah bantuan pakaian dan perlengkapan sekolah.

“Tahun kemarin ada tiga kali bantuan sembako dari pemerintah, namun saya kurang tahu dari dinas mana itu bantuan. Namun saat ini kami meminta pemerintah bisa memberikan bantuan pakaian sekolah dan peralatan sekolah untuk anak-anak kami yang bersekolah,” pintanya.

Kawasan TPA Kawatuna dihuni 60 kepala keluarga yang pada umumnya bekerja sebagai pemulung. Mereka berharap Walikota dan Gubernur terpilih bisa menyediakan pasokan listrik yang memadai.

“Sebagian warga disini telah mendapatkan bantuan perumahan dari pemerintah kota, namun sebgiannya belum, dijanjikan bantuan pada tahap kedua. Saat ini kan sudah Walikota dan Gubernur baru,masa biar air dan litrik tidak di sediakan untuk kami disini, kami kan juga rakyat Sulawesi Tengah, hanya saja kerjanya kami cuma pemulung,” kata seorang ibu yang tidak mau disebutkan namanya.

Hal senada disampaikan Inyo (38). Dia mengatakan pasokan listrik ke kawasan TPA Kawatuna yang berasal dari bio gas atau gas metan sudah dua bulan tidak lancar.

“Pemerintah bikin sudah listrik untuk kita di sini tenaga Bio Gas, tapi dua bulan terakhir sudah sering mati-mati,tidak tau juga kenapa bisa mati-mati,” jelas Inyo.
MS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

%d bloggers like this: