Honorer Damkar Poso Menjerit

SULTENG POST- Jika dilihat dari sisi tanggung jawab yang dikerjakan, sudah pasti kita akan memberikan apresiasi yang tinggi kepada seluruh personel satuan Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Poso ini.

Namun ironis, kerja serta tanggung jawab yang besar itu, ternyata tidak sejalan dengan apa yang mereka dapatkan dari pemerintah setempat.

Tidak mau dikerja berakibat nyawa orang bisa melayang, ketika dikerjakan nyawa pegawai damkar bisa melayang.

Meski demikian, penegakan disipilin sebagai abdi negara kepada masyarakat menjadi tugas utama.

Pegawai Damkar siap melaksanakan perintah untuk membantu masyarakat yang membutuhkan pertolongan khususnya yang mengalami kebakaran.

Meski banyak tantangan yang membahayakan nyawa, menghidupi keluarga mutlak dilakukan.

Di musim kemarau yang berkepanjangan, banyak terjadi kebakaran, karena itu pegawai damkar harus siap sedia 1×24 jam di pos jaga untuk menerima laporan warga.

Dari fakta yang ditemukan media ini, serta sejumlah keluhan personel Damkar Poso, khususnya yang masih menjadi tenaga honorer oleh pemerintah setempat diberikan gaji honor Rp. 525 ribu per bulan.

“Sebenarnya, dengan gaji sebasar ini kami memang masih belum dapat mensejahterakan keluarga. Kebutuhan anak istri saat ini belum sepenuhnya kami penuhi. Namun apa daya, hanya itulah yang bias kami terima dari pemerintah daerah,” ungkap salah seorang personel Damkar yang tidak ingin dikorankan namanya.

Dia mengungkapkan, dirinya bisa melakukan perkerjaan sampigan seperti mengojek. Namun karena pekerjaan sebagai petugas Damkar harus senantiasa siaga di pos jaga sekali 24 jam, maka hal itu urung ia lakukan.

“Sebenarnya, untuk memenuhi kebutuhan keluarga dapat kami lakukan dengan melakukan pekerjaan sampingan lainnya. Sayangnya hal tersebut tidak bisa kami kerjakan karena tugas dan tanggung jawab yang begitu berat,” terangya.

Selama bertahun-tahun pula gaji pegawai honorer belum ada kenaikan.

”Sudah bertahun-tahun gaji kita ini hanya Rp525 ribu per bulan ditambah dengan honor pos, yang semuanya senilai Rp 800 ribu,” urai mereka.

Mereka mengatakan, saat ini Kabupaten Poso mengalami banyak kebakaran, baik di hutan maupun di rumah warga akibat musim kemarau yang panjang.

Sehingga status dinaikan menajadi siaga satu. Selain itu, sebanyak 13 petugas damkar Poso saat ini, selama 11 bulan bekerja, belum menerima upah sepersen dari pemerintah setempat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

%d bloggers like this: