Warga Donggala dan Buol Tanam Pisang di Jalan
Pohon pisang yang ditanam warga di tengah Jalan Pemuda, Desa Labuan Induk, Donggala, sebagai bentuk aksi protes terhadap pemerintah daerah yang tidak peduli pembangunan jalan di wilayah tersebut. (Foto : Metrosulawesi/Jose Rizal)

Warga Donggala dan Buol Tanam Pisang di Jalan

“Beberapa jalan di desa kami ini sudah hampir sepuluh tahun rusak dan tidak pernah diperbaiki. Padahal desa Labuan Induk ini ibukota Kecamatan. Kemana semua itu anggaran,” – Mahmud, Warga Labuan Induk –

Kesal Pemerintah tidak Peduli Infrastruktur Jalan

Donggala, – Kesal karena beberapa akses jalan rusak dan kondisinya semakin parah, ratusan warga Desa Labuan Induk, Kecamatan Labuan, Kabupaten Donggala, Rabu (23/9/2015) malam menumpahkan kekesalannya dengan menanam pohon pisang di tengah jalan dan menimbun jalan tersebut dengan material pasir dan batu.

Bukan hanya itu, warga yang kesal juga menyegel Kantor Camat dan meminta Camat Labuan dan Kepala Desa Labuan Induk untuk segera mundur dari jabatnya karena dinilai tidak memiliki kepedulian atas keluhan warga selama ini.

Dari pantauan Metrosulawesi, beberapa jalan yang ditanami pohon pisang dan ditimbun warga tersebut antara lain Jalan Kramat Raya. Jalan ini adalah akses menuju ke Sekolah Menengah Kejuruan (SMK 1) sekaligus jalan menuju rumah kediaman Camat Labuan. Jalan Pemuda, dan Jalan Pontoya.

Salah seorang warga setempat, Mahmud (40) kepada media ini mengatakan, jalan di desa mereka sudah lama rusak dan tidak pernah diperbaiki.

“Beberapa jalan di desa kami ini sudah hampir sepuluh tahun rusak dan tidak pernah diperbaiki. Padahal desa Labuan Induk ini ibukota Kecamatan. Kemana semua itu anggaran?,”ujarnya kesal.

Dia menegaskan, agar pihak pemerintah Kabupten Donggala segera melakukan perbaikan jalan di Desa Labuan Induk. Dia juga meminta kepada Bupati Donggala, Kasman Lassa untuk segera mencopot Camat Labuan dan Kepala Desa Labuan Induk, karena dianggap tidak mampu mendorong dan meningkatkan pembangunan di Kecamatan dan desa tersebut. (jalu)

Aksi Tanam Pisang di Jalan Kota Buol Berlanjut

Jalan Datuiding, Kelurahan Kali, Buol, yang ditanami pohon pisang oleh warga. (Foto : Moh Syarif M Joesoef)

Sementara itu, warga di Kabupaten Buol, kembali melakukan aksi tanam pohon pisang disepanjang jalan Datuiding (dalam kota). Kali ini warga di Kelurahan Kali, Kecamatan Biau, aksi tersebut bentuk kekecewaan masyarakat terhadap pemerintah setempat yang hingga kini belum mengaspal jalan sejak dikerjakan pada 2014 lalu.

Pantauan Metrosulawesi, di lokasi selain pohon pisang terdapat pula tanaman lainnya seperti pohon pepaya dan gundukan batu serta bongkahan tiang dari benton. Menurut warga sekitar, aksi mereka karena kesal jalan yang dijanjikan akan segerah diaspal ternyata tidak kunjung direalisasikan.

Pada tahun 2014 lalu jalan tersebut sudah dikerjakan. Namun, hanya sebatas penimbunan batu kerikil sampai pengerasan akibatnya selain dikenyangkan dengan debu jalan setiap harinya juga warga disulitkan kondisi jalan yang berbatu-batu.

Kepada wartawan, warga juga menegaskan tidak akan menghilangkan tanaman di sepanjang jalan tersebut sebelumnya ada jaminan dari pemerintah untuk melakukan pembenahan.

Hasil penelusuran Metrosulawesi, diperoleh imformasi, Pemkab Buol telah menganggarkan kembali kelanjutan pekerjaan melalui dana DAK senilai Rp.488. 399. 426 dan DAU Rp.14.651. 983 pada perubahan APBD tahun 2015.

Dan jalan Datuiding ini masuk dalam paket peningkatan jalan dalam kota. Bahkan proses tender telah rampung sejak tanggal 13 Agustus silam, akan tetapi hingga hari ini pihak rekanan pemenang lelang yakni, PT Hafayed Perkasa Utama belum terlihat melakukan aktifitas apapun.

Kepada Seksi Jalan, bidang Bina Marga Dinas PU Buol Muhammad Ali, di kantornya kepada Media ini, membenarkan hal tersebut. Menurutnya, belum dimulakan kegiatan oleh kontraktor pemenang karena sementara mobilisasi AMP ke lokasi.

“Tapi kita sudah menyurat ke rekanan untuk segerah melakukan eksen, mengingat batas waktu yang semakin mepet bila tidak kita akan mengambil sikap tegas kepihak kontraktor bersangkutan,”tegas Muhammad Ali dikantornya, Selasa (22/9/2015).

Lebih lanjut, dia mengaku pada tahun 2014 jalan yang sama sebenarnya telah dikerjakan oleh kontraktor berbedah, akan tetapi pihak rekanan tidak dapat menyelesaikan pekerjaannya hingga batas waktu kontrak habis.

“Pekerjaan lalu tidak selesai kita putus kontrak. Dananya kita kembalikan ke daerah, kemudian dianggarkan ulang dengan paket yang sama, pemenangnya perusahaan asal Palu, cuma kendala mereka informasinya mobilisasi alat,”ungkap Muhammad Ali.

Sebagaimana diketahui, aksi blokir jalan juga pernah dilakukan oleh warga Desa Biau, Kecamatan Bukal, dengan cara menanam pohon pisang ditengah jalan pada Senin (14/9/2015) silam, karena kesal kondisi jalan berdebuh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

%d bloggers like this: