Sungai Palu-Sigi Ancam Areal Pertanian

Tidak Ditata dengan Baik

Palu – Minimnya perhatian pemerintah terhadap penataan sungai Palu-Sigi, mengakibatkan puluhan hektar areal pertanian di Desa Sidondo I, II dan III Kabupaten Sigi, hilang diterjang banjir. Bukan hanya itu, kawasan pemukiman warga pun ikut terancam.

“Jika diestimasi, sudah tidak terhitung lagi berapa banyak kerugian yang dialami oleh warga. Setiap kali banjir, tanah beserta tanaman seperti coklat, kelapa, habis disapu ganasnya sungai Palu-Sigi,” ujar Nikson, Kades Sidondo II, Kecamatan Biromaru kepada Metrosulawesi belum lama ini di Palu.

Menurutnya, jika mengacu pada kalender musim, maka warga di wilayah Sindondo I, II, III dan IV atau yang kerap disebut Sindondo Raya, akan bersiap-siap menghadapi musim penghujan di akhir tahun.

“Dua tahun terakhir ini misalnya, wilayah Sidondo II tenggelam akibat banjir. Bisa diibaratkan seperti lautan di tengah desa,” katanya sembari mengenang kisah memilukan itu.

Dia menuturkan, kalau di wilayah Sidondo II sudah sepanjang 2 kilometer tanah habis terbawa air. Sudah tidak terhitung lagi berapa banyak tanaman coklat dan kelapa yang habis. Sementara di desa tetangga, seperti Sidondo I dan III juga mengalami nasib yang sama.

Berbagai upaya mereka sudah lakukan. Misalnya, swadaya bersama dengan cara gotong royong memasang karung-karung untuk menghambat daya sapu banjir, tapi tidak efektif karena derasnya hantaman air. Bahkan saat ini aliran sungai sudah bercabang-cabang. Sehingga jika musim hujan, aliran air menjadi liar dan masuk ke kampung-kampung.

Upaya lain yang mereka lakukan adalah mendatangi Kepala Balai Wilayah Sungai Sulawesi Tengah (BWSS), agar pemerintah bertindak cepat mengatasi hal tersebut.

“Hampir setiap tahun proposal permintaan normalisasi sungai kami ajukan, baik secara bersama dengan

pemerintah desa Sidondo I, IV dan III, maupun inisiatif dari kami di Sindondo II sendiri. Namun sampai hari ini, langkah kongkrit pemerintah sama sekali belum nampak. Sementara kita sudah akan memasuki musim penghujan di akhir tahun,” keluhnya.

Saat ini kata dia, adalah waktu yang tepat untuk melakukan normalisasi sungai karena masuk pada musim kemarau yang menjadikan aliran sungai cukup dangkal.

Warga Sidondo Raya hanya meminta bagaimana aliran sungai bisa dinormalkan dulu, supaya aliran sungai jadi satu jalur. Tidak seperti saat ini, sungai sudah menjadi tiga jalur aliran sungai.

“Kalau jalur air normal, maka kami pun akan menjadi tenang dan aktifitas pertanian warga juga bisa tumbuh kembali,” ungkapnya.

Dihubungi terpisah, anggota DPRD Provinsi Sulteng Muh Masykur mengatakan, situasi semacam itu sudah sampai ke tahap emergensi. Pemerintah diharapkan bertindak cepat, tidak cukup lagi dengan setiap kali banjir datang, pemerintah daerah baru datang meninjau lokasi, dan sesudah itu lupa, seolah-olah masalah sudah selesai.

“Tidak cukup lagi seperti itu karena bisa dikategorikan sebagai upaya primitif. Mestinya menghadapi kondisi cuaca ekstrim saat ini, yang dibutuhkan adalah langkah kongkrit,” kata Masykur, Kamis (20/8/2015).

Mestinya ada desain penataan kawan wilayah sungai ucapnya. Jangka pendeknya adalah dengan melakukan normalisasi. Sementara jangka panjangnya, merubah kawasan aliran sungai yang liar menjadi kawasan eko wisata.

“Sudah sepatutnya pemerintah membuat blue print Penataan Kawasan Sungai Palu-Sigi. Selain itu, Kepala BWSS

segera menindaklanjuti desakan warga melakukan normalisasi sungai, agar tidak ada korban dan kerugian yang lebih besar lagi,” pungkasnya.(ms)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

%d bloggers like this: