Industri Mebel Sulteng Kesulitan Modal dan Bahan Baku

Donggala- Industri kerajinan mebel di Sulawesi Tengah mengalami kesulitan bahan baku dan akses modal ke perbankan sehingga menyebabkan produksi cenderung stagnan.

“Padahal permintaan pasar lumayan bagus. Kami masih sering menerima pesanan dari Bali dan Makassar,” kata Direktur Karya Ebony Arnold Anwar di Wani, Donggala, Rabu (12/8).

Arnold adalah satu satu usahawan muda yang ikut mendaftar di Dinas Pemuda dan Olahraga untuk dinilai sebagai Wirausaha Muda Pemula (WMP) berprestasi untuk tingkat provinsi.

Tahun 2015 sebanyak 16 pengusaha muda mendaftar di Dinas Pemuda dan Olahrga untuk masuk dalam kategori WMP berprestasi terbaik.

Arnold mengatakan sebagai usahawan muda dirinya mendapat berbagai tantangan diantaranya keterbatasan bahan baku, akses permodalan dan pemasaran.

Dia mengatakan sebagai industri kreatif berbasis kayu semakin sulit mendapatkan kayu seperti ebony (kayu hitam).

“Kami hanya bisa membeli dari perusahaan, sementara harganya terus naik,” katanya.

Arnold mengatakan untuk mendapatkan satu kubik kayu hitam seharga Rp7,5 juta.

Produk turunan yang dihasilkan dari kayu hitam seperti kursi, meja dan aksesoris cendramata seperti gantungan kunci, berangkas mini untuk penyimpanan hiasan, jam, tempat tisu dan tas jinjing untuk aksesoris pesta.

“Pesanan paling banyak sekarang berangkas mini untuk menyimpan hiasan seperti cincin dan gelang,” katanya.

Permintaan tersebut antara lain dari Makassar dan Bali.

Sementara untuk kursi dan prabot rumah tangga lainnya seperti meja hias dan meja makan lebih dominan permintaan dari dalam daerah.

“Permintaan masih lumayan bagus, tapi kita kesulitan bahan baku,” katanya.

Satu set kursi dijual seharga Rp12 juta dengan waktu proses pengerjaan dua hingga tiga pekan.

Arnold mengatakan untuk menyiasati kesulitan bahan baku tersebut, perusahaannya membeli kayu buangan yang tidak memenuhi syarat ekspor oleh perusahaan eksportir.

“Kayu buangan itulah yang kami jadikan bahan untuk kerajinan cendramata,” katanya.

Terkait tenaga kerja, Arnold mengatakan tidak masalah karena perusahaannya merekrut tenaga-tenaga muda yang menganggur di desanya lalu dibimbing sehingga memiliki keterampilan kerja.

Karya Ebony saat ini mempekerjakan tujuh tenaga kerja dengan tugas masing-masing sesuai bidangnya.(ms)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

%d bloggers like this: