Warga Tolak Jaringan SUTT, Suplai Listrik ke Palu Terancam

PALU – Bayang-bayang pemadaman bergilir kini tampak di depan mata dan kembali akan mewarnai Kota Palu dan sekitarnya, jika transmisi listrik dari PLTA Sulewana Poso melalui Gardu Induk (GI) Sidera ke GI Talise tidak juga terwujud dalam tahun ini. Pasalnya, kebutuhan listrik di ibukota provinsi ini kian meningkat, terlebih jika dikaitkan dengan kehadiran Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).

PLN sendiri sesuai komitmennya sudah memacu diri untuk terus meningkatkan kemampuan suplai listriknya. Namun penolakan warga di Desa Loru dan Pombewe, Biromaru, Sigi untuk dilintasi wilayahnya oleh jaringan Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) menjadi batu sandungan bagi PLN untuk bisa menjamin kontunitas suplai listrik tersebut ke Palu.

“Sesuai skedul, seharusnya saat ini kita sudah menarik kabel dari Gardu Induk Sidera ke Gardu Induk Talise. Tapi karena ada penolakan warga di kedua desa tersebut, maka terpaksa kita hentikan,” ungkap Asisten Manajer Teknik PT. PLN (Persero) Unit Pelaksana Konstruksi Jaringan Sulawesi 2, Osta Melanno ST, kemarin (24/6).

Didampingi Supervisor Keuangan dan Administrasi Azka Riza Kurniawan ST, Osta menyebutkan, jika warga di kedua desa tersebut masih terus melakukan penolakan, maka target suplai listrik ke Palu yang direncanakan terealisir pada akhir tahun ini tidak akan terwujud. “Artinya, kita tidak bisa menambah suplai listrik ke Palu,” sebutnya.

Sesungguhnya kata Osta, antara PLN dengan warga sudah dilakukan negosiasi terkait dengan penolakan tersebut, termasuk melibatkan Komnas HAM dan Ombusman serta pemerintah Kabupaten Sigi. Bahkan kata Azka menambahkan, sudah dilakukan pula sosialisasi bahwa ada kompensasi kepada warga yang dilintasi jaringan SUTT tersebut.

“Kita menggunakan Permen No.13/2013, yaitu bukan hanya tapak tower yang diganti rugi tetapi juga semua bangunan dan pohon yang dilintasi akan diberikan ganti rugi. Kita juga sudah sampaikan bahwa jaringan ini adalah SUTT, bukan SUTET (Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi). Awalnya warga bisa terima, tapi tiba-tiba menolak lagi,” sebutnya.

Ia menyebutkan, progress fisik proyek SUTT 70kV tersebut sudah mencapai 80 persen dan jika berjalan lancar, maka tambahan suplai listrik ke Palu melalui gardu induk Silae dan gardu Talise masing-masing sebesar 24 MW atau seluruhnya 48 MW dapat diwujudkan. “Persoalan penolakan warga di kedua desa ini harus tuntas hingga Agustus ini, karena kalau tidak, kami pastikan suplai itu terhambat,” tandasnya.

Seperti diketahui sebelumnya, Gubernur Sulteng Longki Djanggola cukup getol “menekan” PLN untuk segera meningkatkan kemampuan suplai listriknya ke Palu melalui transmisi dari PLTA Sulewana. Sejak tahun lalu pula, suplai itu bisa diadakan dengan beroperasinya GI Sidera dengan kapasitas 24 MW. Jumlah itu dinilai belum cukup dibandingkan kebutuhan listrik yang ada.

Karenanya, PLN akan menambah suplainya dengan mengalirkan listrik lagi dari PLTA Sulewana melalui GI Sidera ke Palu dengan membangun dua gardu induk lagi, yakni di Silae dan Talise yang masing-masing berkapasitas 24 MW dan direncanakan akan beroperasi pada Desember tahun ini.

“Tapi dengan adanya penolakan warga ini, rencana ini tentu akan berantakan lagi dan suplai listrik tidak bisa kita tambah,” ulangnya lagi. Ia berharap pemerintah provinsi bisa turun tangan dan memediasi masalah ini agar keinginan tersedianya listrik untuk pembangunan daerah dapat diwujudkan. (BP)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

%d bloggers like this: