Spanduk Usir PT Vale Tersebar di Kota Palu

PALU, KABAR SELEBES – Spanduk berisi penolakan kehadiran PT Vale Indonesia Tbk (INCO) di Sulawesi Tengah menyebar di Kota Palu, Selasa (23/6). Spanduk pengusiran Vale yang disebar oleh DPD Pospera (Posko Perjuangan Rakyat) Sulteng dapat ditemukan di pagar gedung DPRD Sulteng, sudut-sudut kota dan di beberapa kampus.

Ketua DPD Pospera Sulteng Abdul Jalil Alkaf mengakui spanduk tersebut disebarkan oleh organisasinya. Pospera Sulteng akan bertanggungjawab atas beredarnya spanduk pengusiran tersebut.

“Tindakan Pospera Sulteng ini bentuk keberpihakan pada rakyat Sulteng, khususnya masyarakat Morowali yang sekian puluh tahun tidak berdaulat di negerinya sendiri. Semua ini karena puluhan ribu hektar lahan di Morowali dikuasai oleh Vale,” kata Jalil.

Menurut dia, sejak tahun 1968 sampai saat ini keberadaan vale tidak memberikan kontribusi secara ekonomi bagi masyarakat Morowali. Selain itu, Vale dinilai selalu menghiananti komitmen dengan masyarakat dalam hal pembangunan smelter.

Lebih lanjut dikatakan, keberadaan Vale juga menghambat investasi di Morowali, serta menyumbang kerugian pada masyarakat karena lahan yang dikuasai Vale tidak bisa dimanfaatkan buat sumber ekonomi rakyat.

“Pospera akan secara sungguh sungguh berjuang untuk memenangkan kepentingan rakyat.
Dalam pekan depan ini Pospera akan melakukan pertemuan bersama tim pemerintah terkait tindak lanjut atas pelaporan Pospera sekaligus penyerahan dokumen kepada Menteri Sekretaris KabinetAndi Wijayanto,” demikian Jalil.

Mengutip Metrotvnews.com, disebutkan PT Vale Indonesia telah mengeluarkan biaya eksplorasi USD786,47 ribu pada Mei 2015. Eksplorasi yang dilakukan bakal berlanjut dan difokuskan untuk daerah di dalam kontrak karya.

Berdasarkan laporann di keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (11/6/2015), Sekretaris Perusahaan Vale Indonesia Ratih Amri menjelaskan, daerah eksplorasi di daerah Blok Soroako di Bukit Nikel dan Bukit Pinang Sulawesi Selatan, serta Blok Pomalaa di Kabupaten Kolaka Sulteng dan Blok Bahodopi di Sulteng.

Eksplorasi yang dilakukan perseroan, menurut Ratih, dengan menggandeng tiga kontraktor. Hasil pengujian sedang dalam proses penghitungan cadangan dengan metode block modelling di Soroako.

Seperti diketahui, Vale Indonesia merupakan anak perusahaan dari Vale, sebuah perusahaan pertambangan global yang berkantor pusat di Brasil, sebelumnya bernama PT International Nickel Indonesia Tbk (PT Inco).

Luas kontrak karya Vale mencapai 36 ribu hektare di dua blok yakni Bahodopi dan Kolonodale. Sejak 2008, Pemprov Sulteng meminta Vale agar segera membangun pabrik pengolahan nikel. Pemprov Sulteng, pada 2010 kembali mengingatkan Vale agar segera membangun pabrik tersebut.

Dalam pasal kontrak karya yang dikantongi Vale menyebutkan, program tahap II terdiri atas pembangunan dua tambahan pabrik produksi di daerah pantai wilayah kontrak karya di Pomalaa, Provinsi Sulawesi Tenggara dan di Bahodopi Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah.

Merujuk kontrak karya tersebut, mestinya Inco sudah harus membangun pabrik pada 2010

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

%d bloggers like this: