17 DPO Poso Belum Tertangkap

Palu, – Kepala Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Tengah, Brigjen Pol Idham Azis, bersama sejumlah pejabat utama Polda Sulteng, Selasa (26/5), memaparkan peristiwa kontak senjata yang mengakibatkan dua anggota kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) tewas di tempat.

Kontak senjata itu terjadi di Dusun Gayatri, Desa Maranda, Kecamatan Poso Pesisir Utara, Kabupaten Poso pada Minggu (24/5).

Idham Azis menuturkan, saat itu sekitar pukul 18.30 Wita terjadi kontak senjata antara personil gabungan (Brimob, BKO Mabes Polri, Densus 88 Anti Teror dan Polda Sulteng) dengan kelompok MIT pimpinan Santoso alias Abu Wardah.

Dalam operasi tersebut, personil gabungan melumpuhkan dua orang yang masuk Daftar Pencarian Orang (DPO) anggota MIT.

“Kontak senjata itu terjadi sekitar 20 menit. Hasilnya dua orang DPO pelaku teroris dilumpuhkan atau tewas, yakni berinisial E dan A,” kata Idham kepada wartawan di Mapolda Sulteng di Palu.

Sebelumnya, Kapolres Poso AKBP Ronny Suseno di lokasi kejadian mengemukakan, kedua anggota MIT yang tewas itu kemungkinan besar adalah Azis Tamanjeka alias Papa Sifa dan Eno alias Ano, warga Dusun Tamanjeka Desa Masani, Kecamatan Poso Pesisir. Wajah keduanya ada di dalam baliho yang terpasang di beberapa titik di Kota Poso. Kendati demikian, menurut Ronny, demi memastikan bahwa mereka adalah Azis atau Eno, polisi tetap menunggu hasil tes DNA yang dilakukan oleh Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah.

Kapolda mengatakan, pada Senin (25/5), pihaknya melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) dan menemukan barang bukti berupa senpi organis laras panjang jenis M16 satu pucuk, Senpi organis laras panjang M16 mini satu pucuk, bom rakitan dari botol plastik satu buah, bom rakitan dari pipa paralon 8,5 sentimeter persegi dua buah,  amunisi cal 5,56 mm sebanyak 667 butir, amunisi cal 7,67 mm sebanyak tiga butir amunisi rusak sebanyak satu butir, magazine M16 berisi amunisi 24 butir satu buah, magazine M16 berisi amunisi 13 butir satu buah tas punggung warna hitam dan lain-lain.

Jenderal bintang satu itu menegaskan, dari 24 DPO Poso, kini tersisa 17 nama lagi yang masih belum tertangkap. Sehingga, diharapkan kepada mereka yang masuk dlm DPO tersebut untuk menyerahkan diri.

“Kalau menyerahkan diri, saya akan fasilitasi proses hukumnya, kita akan proses baik-baik, kasihan anak dan istri mereka,” imbuh Idham.

Ia menegaskan, polisi tidak mungkin membuka ruang dialog dengan DPO, kalau mau proses baik-baik, silakan menyerahkan diri.

Lebih jauh Idham Azis menuturkan, Selasa (26/5), pihak keluarga korban yang tewas dalam kontak senjata di Dusun Gayatri, Desa Maranda, Kecamatan Poso Pesisir Utara, Kabupaten Poso, itu datang di Rumah Sakit (RS) Bhayangkara Palu untuk melihat kedua jenazah tersebut. Apabila betul itu keluarganya, maka akan dilakukan tes DNA sehingga proses identifikasi jenazah lebih cepat. Saat ini, jenazah kedua orang kelompok Santoso yang tewas tersebut terbaring kaku di ruangan jenazah RS Bhayangkara.

Sementara itu, kata Idham, kedua anggota Polri yang mengalami luka-luka saat kontak senjata tersebut, kini sudah dirujuk ke Rumah Sakit Pondok Indah Jakarta untuk mendapat perawatan medis.

Keduanya adalah Bripka I Wayan Pande mengalami luka tembak di bagian lengan kiri, dan Brigadir I Wayan Sudana mengalami luka robek di bagian kepala.(metrosulawesi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

%d bloggers like this: