Polisi Temukan Senjata M-16 Milik Santoso

Dua Jenazah Masih di RS Bhayangkara

Poso, Metrosulawesi.com – Aparat Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah menggelar olah tempat kejadian perkara (TKP) kontak tembak antara pasukan Brimob dan terduga anggota Kelompok Santoso di Dusun Gayatri, Desa Maranda, Kecamatan Poso Pesisir Utara, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, Senin (25/5) pagi.

Dalam oleh TKP di dua lokasi, polisi kembali menemukan sejumlah barang bukti, seperti senjata laras panjang M-16, magazine, dan puluhan amunisi aktif. Jalannya olah TKP tersebut mendapat pengawalan ketat dari puluhan pasukan Brimob bersenjata lengkap.

“Senjata M-16 yang ditemukan di semak belukar adalah senjata yang selama ini dipakai oleh Santoso seperti yang terlihat dalam video Santoso. Selain senjata, kami juga menemukan beberapa perlengkapan mereka seperti tas ransel berisi pakaian dan senter,” kata Kapolres Poso AKBP Ronny Suseno, di sela-sela lokasi olah TKP.

Lokasi tembak-menembak itu persis di jalan poros Trans Sulawesi. Pasukan Brimob yang menjaga olah TKP harus mengawasi semua kendaraan umum yang lalu-lalang di tempat itu.

Kapolres Poso menambahkan, olah TKP yang digelar kemarin merupakan lanjutan dari kegiatan serupa yang dilakukan pada malam hari, pasca terjadinya 30 menit kontak senjata, Minggu (24/4) malam.

Usai baku tembak pada pukul 18.45 Wita polisi menemukan senjata api M-16, bom rakitan serta golok milik dua terduga anggota Kelompok Santoso yang tewas tertembak.

Dengan bertambahnya temuan itu maka barang-barang yang ditemukan adalah dua senjata api jenis M-16, dua magazine, 200 amunisi aktif, tiga buah bom lontong, dan satu buah golok.

“Sejauh ini kita masih terus mendalami dan masih terus melakukan pengejaran terhadap para kelompok teroris tersebut, yang diperkirakan melarikan diri ke Pegunungan Poso Pesisir Utara,” kata Kapolres.

Sebelumnya diberitakan, dalam  kontak tembak itu, dua terduga anggota Kelompok Santoso tewas di tempat. Kejadian tersebut juga melukai dua anggota Brimob.
Mereka yang terluka adalah Bripka I Wayang Pande dengan luka terkena tembakan lengan kiri dan Brigadir I Wayan Sudanta dengan luka robek di kepala bagian atas.

Jenazah dua anggota kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Santoso alias Abu Wardah itu masih disemayamkan di RS Bhayangkara Palu.

Meskipun belum ada keterangan resmi, namun secara fisik dapat dipastikan, kedua teroris itu adalah Azis Tamanjeka alias Papa Sifa dan Eno alias Ano, warga Dusun Tamanjeka Desa Masani, Kecamatan Poso Pesisir.

Menurut Kapolres Ronny Suseno, wajah keduanya ada di dalam baliho yang terpasang di beberapa titik di Kota Poso.

Kendati demikian, menurut Ronny, demi memastikan bahwa mereka adalah Azis atau Eno, polisi tetap menunggu hasil tes DNA yang dilakukan oleh Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah.

“Yang jelas, mereka termasuk dalam DPO (daftar pencarian orang) kita. Apakah dia itu Aziz atau Eno? Kita tinggal menunggu hasil identifikasi dan tes DNA yang sementara berlangsung,” kata Ronny.

Setelah tewasnya dua orang anggota dari kelompok Santoso itu, aparat kepolisian masih terus melakukan pengejaran dan penyisiran terhadap sisa dari kelompok MIT yang melarikan diri ke kawasan Pegunungan Gayatri.

Dalam pengejaran, pihak kepolisian menurunkan 40 anggota Brimob dengan anjing pelacak. Selain melakukan pengejaran, pihak kepolisian melakukan penjagaan dan razia kendaraan di beberapa lokasi yang dianggap rawan.

Kapolres poso AKPB Ronny Suseno menjelaskan kekuatan kelompok yang terlibat kontak dengan regu Brimob Kelapa Dua, Minggu (24/5) malam, berjumlah lima orang dan bersenjata api. Mereka semula akan disergap saat akan turun gunung untuk mengambil logistik.

Dijaga Ketat

Dua jenazah terduga anggota Kelompok MIT yang tewas tertembak pasukan Brimob masih disimpan di ruangan jenazah Rumah Sakit (RS) Bhayangkara Palu.

“Tadi malam sekitar pukul 12.30 Wita kedua jenazah terduga teroris itu tiba di sini,” kata seorang petugas di RS Bhayangkara Palu, Senin (25/5) sore.

Petugas yang enggan disebutkan namanya itu mengatakan, tadi malam kedua jenazah itu langsung dibaringkan di kamar jenazah.

Pantauan Metrosulawesi, nampak anggota Brimob yang berseragam lengkap dengan senjata berjaga-jaga di luar ruangan jenazah. Tidak bisa sembarang orang melihat jenazah tersebut.

Padahal, hampir semua pengunjung rumah sakit ingin melihat dari dekat kedua jenazah tersebut. Namun, para petugas tidak mengizinkannya.

“Maaf pak tidak bisa masuk,” kata petugas jaga kamar jenazah tersebut.

Sementara itu, dua anggota Brimob yang terluka dalam kontak senjata dengan kelompok itu yakni Bripka Wayan Pande dan Brigadir Wayan Sedana telah diterbangkan ke Jakarta, guna mendapatkan perawatan intensif.

“Hari ini dibawa ke Jakarta untuk perawatan lebih lanjut,” kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Polri Brigjen Pol Agus Rianto di Mabes Pori, Jakarta, Senin (25/5).

“Keduanya merupakan anggota Gegana Korps Brimob,” ucapnya.

Setelah insiden baku tembak di Dusun Gayatri, kedua anggota Brimob yang mengalami luka itu langsung dilarikan di RSUD Parigi untuk mendapatkan pertolongan pertama.

Setelah mendapatkan pertolongan darurat kedua anggota polisi itu di bawa ke Palu dan dirawat di RS Bhayangkara, hingga diberangkatkan ke Jakarta.(metrosulawesi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

%d bloggers like this: