Indra: Literasi Media Sebagai Daya Tangkal Siaran Buruk

foto suasana literasiBANGGAI LAUT – Wakil Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Sulawesi Tengah, Indra Yosvidar menyampaikan perlunya literasi media sebagai daya tangkal terhadap konten yang buruk. Presentai dimulai dengan topik terkait permasalahan dalam dunia penyiaran. Jumlah penyiaran terutama stasiun televisi yang semakin banyak memicu persaingan yang tajam antar lembaga penyiaran. Fenomena ini membuat televisi kadang hanya berpatokan pada rating semata untuk mengejar kue iklan sehingga mengabaikan etika, nilai-nilai dan norma-norma yang ada.

“Padahal P3-SPS KPI telah jelas megatur apa yang boleh dan tidak boleh disiarkan. Ketika masyarakat Indonesia khususnya anak-anak dan remaja secara tidak sadar menerima pengaruh tayangan-tayangan tersebut tanpa kemampuan selektif yang tinggi akan berdampak sangat bahaya.’’ Ungkap Indra.

Dikatakan Indra, Peran KPI dan KPI Daerah sebagai wujud partisipasi publik dalam bidang penyiaran dimaksudkan untuk melindungi masyarakat memperoleh informasi yang tepat, akurat, dan bertanggungjawab serta hiburan yang sehat sesuai dengan amanat UU nomor 32 tahun 2002 tentang penyiaran. ‘’Peran masyarakat sangatlah besar dalam menyikapi serbuan informasi yang akhir-akhir ini, semakin kencang. Olehnya itu, selain kami (KPID,red) peran masyarakat sangat menentukan,’’ katanya.

Dijelaskannya, beberapa hal yang sering dilanggar lembaga penyiaran antara lain penghormatan terhadap publik, perlindungan kepentingan publik, hak privasi, anak dan remaja, kelompok tertentu, terkait konten bermuatan seksual, kekerasan, siaran rokok, napza dan minuman beralkohol, perjudian, dan mistik.

Indra mencontohkan saat ini kita sering menyaksikan anak-anak dan remaja berkata kasar dan menggunakan pilihan kata yang tidak tepat dalam berinteraksi. Ini sungguh sebuah keprihatinan.

‘’Dampak siaran yang ada saat ini kan sangat jelas. Bahkan, ada yang membuat orang tua harus ekstra keras menjaga putra-putrinya yang masih usia balita,’’ jelas Indra.

Langkah konkrit yang dilakukan dalam menyikapi siaran, lanjut Indra,  yakni dengan melakukan penolakan konten siaran. Bahwa apabila penolakan masyarakat terhadap suatu tayangan dilakukan secara massif maka rating tayangan akan turun dan program siaran tersebut akan dihentikan karena dinilai tidak memberikan keuntungan secara ekonomi terhadap stasiun televisi. (***)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

%d bloggers like this: